Disusun Oleh : Binti Masruroh, S.Hut – Guru Muda di SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru

Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang luar biasa bagi dunia pendidikan kita. Efek desruptif yang ditimbulkan mengubah segala kebiasaan ada secara cepat dan tiba-tiba. Pembelajaran tatap muka berubah menjadi pembelajaran kelas maya  untuk mencegah penyebaran Covid-19. Berbagai media dimanfaatkan untuk menunjang keberadaan kelas maya. Berbagai permasalahan muncul atas perubahan ini. Mulai dari biaya yang membengkak untuk pembelian kuota, sinyal internet yang sulit untuk daerah tertentu, tingkat penguasaan guru terhadap teknologi serta berbagai permasalahan lain yang menjadi  kendala bagi proses transisi dari pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran kelas maya.

SMK Kehutaan Negeri Pekanbaru adalah salah satu dari 5 SMK Kehutanan Negeri di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). 5 SMK Kehutanan Negeri tersebar di 5 pulau besar di Indonesia yaitu Sumatera (SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru), Jawa (SMK Kehutanan Negeri Kadipaten), Kalimantan (SMK Kehutanan Negeri Samarinda), Sulawesi (SMK Kehutanan Negeri Makassar) dan Papua (SMK Kehutanan Negeri Manokwari). Kelima SMK tersebut adalah sekolah asrama dengan peserta didik berasal dari masing-masing pulau. Dalam kesehariannya peserta didik beraktivitas secara bersama bersama, baik di kelas, tempat ibadah maupun tempat tinggal. Dalam setiap kelas terdiri dari 30-35 peserta didik, sedangkan dalam asrama terdiri 5 – 8 peserta didik.

Proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) menggunakan Google Meet.

Sekolah asrama ditengarai sebagai tempat yang beresiko tinggi dalam penularan Covid-19. Hal ini terjadi karena dalam sekolah asrama sangat sulit untuk mewujudkan Sosial Distancing. Untuk itu pada awal pandemi Covid-19 seluruh SMK Kehutanan Negeri memulangkan seluruh peserta didik ke daerah asalnya. Kondisi ini mengakibatkan SMK Kehutanan Negeri menerapkan pembelajaran kelas maya/pembelajaran jarak jauh (PJJ). Selain kendala yang dijelaskan sebelumnya, PJJ bagi SMK Kehutanan Negeri adalah sebuah tantangan. Mengapa demikian? Ada beberapa hal yang perlu kita pahami bersama tentang penerapan PJJ di SMK Kehutanan Negeri, yaitu :

  1. SMK Kehutanan Negeri adalah sekolah asrama dengan pola asuh semi militer.

Peserta didik di SMK Kehutanan Negeri dibina secara langsung baik di kelas maupun di asrama selama 24 jam sehingga dalam keseharian terbiasa disiplin, begitu juga dalam pembelajaran tatap muka. Dalam pembelajaran PJJ, peserta didik tidak ada pengawasan langsung dari pihak sekolah sehingga mereka cenderung pasif

  1. Mayoritas materi disampaikan dengan metode praktik.

Bagi peserta didik SMK Kehutanan Negeri pembelajaran praktik sangat menyenangkan. Mereka bebas mengeksplorasi alam. Hal ini akan sangat berbeda dengan PJJ dengan pembelajaran bertumpu pada kelas maya. Meskipun sebagian guru telah mensiasati dengan pembuatan video pembelajaran.

  1. Kondisi tempat tinggal jauh dari sekolah

Peserta didik yang berasal dari aceh sampai lampung merupakan sebuah kendala tersendiri. Sebagian peserta didik berasal dari kelompok tani hutan yang tinggal di pinggiran hutan dengan koneksi internet yang kurang bagus. Kondisi ini mengakibatkan kegiatan pembelajaran kurang optimal. Selain itu lokasi rumah yang jauh dari sekolah tidak memungkinkan untuk dilakukan Home Visit. Home visit dilakukan dalam rangka memantau pembelajaran peserta didik, mengevaluasi kendala serta menjalin komunikasi dengan orang tua.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak Nadiem Makarim menyampaikan pembelajaran di era pandemi diharapkan tidak lagi mengejar target kurikulum tetapi lebih kepada upaya mempertajam life skills. Life skills adalah kemampuan untuk perilaku adaptif dan  positif yang memungkinkan  manusia untuk secara efektif menghadapi tuntutan dan tantangan hidup. Konsep ini juga disebut sebagai kompetensi psikososial. Kemampuan ini sangat dibutuhkan bagi peserta didik agar tetap bisa survive/bertahan dalam segala kondisi demi mewujudkan masa depan dan cita-citanya.

Pembelajaran proyek adalah sebuah alternatif yang bisa kita terapkan di era pandemi ini. Pembelajaran berbasis proyek adalah  metoda pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar. Melalui pembelajaran berbasis proyek, peserta didik mendapatkan life skill dari interaksi langsung peserta didik dengan lingkungannya. Dalam hal ini penulis menerapkan pembelajaran berbasis proyek pada mata pelajaran  teknik agroforestry pada kelas XII. Mata pelajaran agroforestry adalah  mata pelajaran produktif yang memerlukan lebih banyak kegiatan praktik lapangan.  Sedangkan materi yang diajarkan adalah analisa usaha agroforestry. Kelas XII sengaja dipilih karena pada tahap ini peserta didik harus benar benar siap menghadapi tantangan dunia kerja.

Dalam pembelajaran berbasis proyek mata pelajaran teknik agroforestry kelas XII materi analisa usaha agroforestry, peserta didik diberikan proyek untuk melakukan observasi pada Kelompok Tani Hutan (KTH) yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Pada kegiatan observasi, peserta didik mengumpulkan berbagai data yang diperlukan untuk menghitung analisa usaha. Dalam kegiatan ini peserta didik tidak hanya dituntut untuk mengumpulkan data tetapi juga melakukan interaksi dan komunikasi terhadap instansi terkait dengan bekal surat permohonan kunjungan dari Kepala SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru.

Setiap kelompok dengan berbekal surat permohonan kunjungan  mendatangi Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) dengan tujuan mendapatkan izin kunungan dan mendapatkan rekomendasi KTH yang dapat dikunjungi. Selanjutnya KPH menghubungkan peserta didik dengan penyuluh lapangan ataupun ketua KTH. Pada tahap ini peserta didik mendapatkan  life skills berupa cara berkomunikasi di lingkungan birokrasi.

Peserta didik dibagi menjadi 11 kelompok. Masing masing kelompok mengunjungi 1 KTH yang berada di sekitar tempat tinggal peserta didik. 11 KTH yang dikunjungi adalah

  1. KTH Belango Bosi Berkarya Kabupaten Siak, Riau
  2. KTH Master Jaya Kabupaten Rokan Hulu, Riau
  3. KTH Rimbun Lestari, Kampar, Riau
  4. KTH Cuupmidar Kabupaten Bengkulu Tengah, Bengkulu
  5. KTH Taruna Jaya Kabupaten Siak, Riau
  6. KTH Pasar Rawa Kabupaten Langkat, Sumatera Utara
  7. KTH Gerbang, Kabupaten Aceh Besar, Aceh
  8. KTH Darupono, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah
  9. KTH Pran Rimau Makmur, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan
  10.  KTH Purwo Lestari, Batam
  11. KTH Mekar Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara

Beberapa KTH memiliki aksesibilitas yang sulit dan jarak yang cukup jauh. Alat transportasi yang digunakan ada yang menggunakan  mobil, sepeda motor dan juga perahu cepat/speed boat. Perjalanan yang cukup menantang dan memberikan kesan mendalam bagi peserta didik. Peserta didik diharapkan mengenal lebih dini gambaran tempat kerja yang harus di hadapi sebagai tenaga teknis setelah lulus. Mengenal secara langsung kondisi lapangan, menjumpai berbagai kendala dan jarak tempuh yang jauh adalah sebuah pembelajaran yang bermakna yang tidak didapatkan dalam pembelajaran tatap muka. Peserta didik langsung menghadapi sebuah permasalahan dan mencoba memecahkan permasalah yang ada dengan penuh rasa tanggung jawab.

Sampai di lokasi KTH, peserta didik menjumpai pengurus KTH, mengumpulkan data terkait analisa usaha serta menggali informasi tentang kendala dalam pengelolaan agroforestry. Peserta didik juga mengumpulkan informasi terkait teknik agroforestry yang dikembangkan serta komponen penyusun agroforestry. Pada tahap ini peserta didik mempelajari faktor faktor yang perlu dipertimbangkan dalam mengembangkan komponen penyusun agroforestry. Secara langsung peserta didik mendapatkan informasi terkait aspek biofisik, sosial budaya dan sosial ekonomi. Pembelajaran mengalir tanpa ada batas ruang dan rasa jenuh.

Akhir dari proses pembelajaran berbasis proyek mata pelajaran teknik agroforestry Kelas XII  materi analisa usaha adalah  menyusun laporan analisa usaha serta melakukan presentasi secara kelompok. Tahap ini merupakan tahap publikasi. Dengan bekal data yang akurat, analisa usaha serta pengalaman lapangan, setiap kelompok dengan percaya mempublikasikan proyek yang sudah dikerjakan dengan penuh perjuangan. Percaya diri didapatkan karena peserta didik terlibat langsung, mengikuti semua proses sesuai sesuai dengan panduan yang ada. Kemampuan bertanya dan menjawab pertanyaan diasah melalui sesi diskusi kelompok. Semua kelompok dan semua peserta didik memiliki kesempatan yang sama dalam bertanya dan menjawab pertanyaan. Peran guru adalah, membimbing, mengarahkan, menambahkan serta memberi penguatan.

Dari keseluruhan tahap yang sudah dijalani oleh peserta didik diharapkan memberi bekal hardskill dan soft skill yang bermanfaat untuk masa depan peserta didik SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru. SMK Bisa!

0

You may also like

Raih Pahala di bulan mulia
Pemanfaatan E-Modul pada Pembelajaran Jarak Jauh dalam rangka Penerapan Literasi Digital
Mobile Training SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru di KHDTK Hutan Diklat Bukit Suligi Dalam Rangka Menyiapkan Pembelajaran Sistem Blok

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *