Binti Masruroh, S.Hut – Guru Muda di SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru

A. Latar Belakang
Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia PP No.11/ Menhut-II/ Tahun 2014 tentang penyelenggaran Sekolah Menengah Kejuruan Kehutanan Negeri, tujuan penyelenggaraan SMK Kehutanan Negeri adalah menciptakan tenaga teknis kehutanan yang berakhlak mulia, profesional, mandiri, berwawasan lingkungan  dan siap memasuki dunia kerja baik lingkup nasional maupun lingkup internasional. Tenaga teknis lulusan SMK Kehutanan Negeri diharapkan dapat menjadi motor penggerak bagi pembangunan kehutanan dengan mengedepankan asas kelestarian dan kesejahteraan. Dalam rangka memenuhi tenaga teknik kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memiliki lima SMK Kehutanan Negeri yang berada di Kadipaten, Pekanbaru, Makasar, Samarinda dan Manokwari. Lulusan dari lima SMK Kehutanan Negeri tersebut diharapkan dapat aktif dalam pembangunan kehutanan di indonesia.

B. Strategi Peningkatan Kualitas Lulusan dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0
Revitalisasi SMK yang digulirkan oleh pemerintah melalui Inpres no 9 tahun 2016 membawa angin segar bagi pengelolaan sekolah vokasi di indonesia, tidak terkecuali bagi SMK Kehutanan Negeri. Meskipun SMK Kehutanan Negeri tidak termasuk dalam 125 SMK Pilot Project dari progam revitalisasi ini. SMK Kehutanan Negeri sebaiknya merespon positif adanya kebijakan pemerintah yang mendukung keterserapan lulusan sekolah vokasi.

Tidak kita pungkiri, lulusan SMK Kehutanan Negeri yang telah terserap di dunia kerja tidak mencapai angka 50 %. Data dua tahun terakhir di SMK kehutanan Negeri Pekanbaru terjadi penurunan keterserapan lulusan dari tahun 2017 ke tahun 2018. Pada tahun 2017 prosentase keterserapan lulusan SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru di dunia kerja mencapai 30 %, sedangkan pada tahun 2018 menurun menjadi 16 %. Hal ini merupakan pekerjaan rumah yang cukup serius bagi pengelolaan SMK Kehutanan Negeri. Mengapa demikian? Karena Outcome dari lulusan SMK adalah bekerja, berwirausaha dan melanjutkan pendidikan. Bekerja adalah prioritas utama bagi lulusan SMK. Lulusan SMK diharapkan dapat langsung bekerja sesuai bidang kompetensi yang dikembangkan.

Menghadapi rendahnya penyerapan tenaga kerja kita harus mengurai penyebab permasalahan tersebut. Beberapa penyebab rendahnya serapan lulusan SMK Kehutanan Negeri adalah :

  1. Rendahnya Hardskill yang dimiliki lulusan SMK Kehutanan Negeri
  2. Rendahnya Softskill yang dimiliki lulusan SMK Kehutanan Negeri

C. Upaya meningkatkan Hardskill lulusan SMK Kehutanan Negeri
Rata-rata lulusan SMK Kehutanan Negeri menguasai kompetensi keahlian masih sebatas knowledge, adapun bidang hardskill belum dikembangkan secara optimal. Pembelajaran yang dilakukan lebih ke arah pengetahuan sehingga sekolah seperti ekosistem belajar. Kondisi ini tentu tidak sesuai dengan tuntutan revolusi industri abad 4.0 dimana pengalaman kerja dan kemampuan teknis sangat dibutuhkan. Dalam menghadapi permasalahan tersebut kita bisa menerapkan revitalisasi SMK yang mengedapankan 2 pilar utama yaitu Peningkatan kerjasama SMK dengan dunia usaha dan perguruan tinggi serta pengembangkan potensi lokal menjadi potensi global yang dimiliki masing masing SMK.

Langkah nyata pengembangan 2 pilar utama revitalisasi SMK dalam meningkatkan kualitas lulusan melalui peningkatan hardskill dapat dilakukan dengan

  1. Pemutakhiran dan penyelarasan kurikulum
  2. Inovasi Pembelajaran
  3. Peningkatan sarana dan prasarana
  4. Peningkatan kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri dalam rangka pendidikan sistem ganda

Pemutakhiran dan penyelarasan kurikulum dapat dilakukan dengan meningkatkan kerjasama antara SMK dengan dunia usaha, dunia industri dan perguruan tinggi. Arah pengelolaan lulusan kita ubah dari supply driven menjadi demand driven sehingga tidak ada lagi penumpukan lulusan dari tahun ketahun. Jenis kompetensi dan jumlah lulusan ditentukan berdasarkan permintaan dari dunia industri dan dunia usaha sehingga terjadi link and match antara lulusan SMK dengan dunia kerja. Langkah sederhana yang dapat kita kerjakan adalah pelaksanaan workshop telaah kompetensi inti dan kompetensi dasar bersama para user dari dunia usaha dan dunia industri secara berkala setiap tahun sehing terjadi evaluasi antara hardskill yang dibutuhkan di dunia kerja dengan hardskill yang diajarkan di sekolah.

Inovasi pembelajaran dilakukan dalam rangka meningkatkan hardskill yang dimiliki. Model pembelajaran teaching factory adalah model pembelajaran yang sangat tepat bagi SMK. Dalam model pembelajaran ini siswa secara aktif dilibatkan dalam proses produksi layaknya di perusahaan. Kegiatan produksi dari hulu sampai hilir dilaksanakan secara utuh. Dimulai dengan perencanaan, pembuatan prorotype, penghitungan biaya yang dibutuhkan, untung dan rugi serta produksi secara masal dijalani dalam model pembelajaran ini.

Pengembangan model pembelajaran teaching factory harus didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai berupa laboratorium produktif kehutanan, bengkel kerja serta tecnopark mutlak dibutuhkan. Dalam peningkatan sarana pembelajaran ini dibutuhkan anggaran yang cukup tinggi, dalam hal ini sekolah bisa menggandeng kementerian terkait melalui pengajuan SBSN. Ketersediaan laboratorium serta bengkel kerja yang lengkap sangat memungkinkan untuk bisa dikembangkan moving class dan pembelajaran sistem blok. Sebuah pembelajaran yang akan sangat menggairahkan.

Peningkatan kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri / institusi pendamping dapat dilakukan melelui pendidikan sistem ganda / Praktek Kerja Lapangan (PKL). Fungsi PKL selain untuk mempertajam hardskill lulusan juga sebagai jembatan untuk melibatkan DUDI dalam proses pendidikan sehingga tujuan akhirnya adalah meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Dalam rangka membangun jembatan untuk peningkatan penyerapan tenaga kerja SMK Kehutaan Negeri dapat membuat MOU secara tertulis serta menghadirkan instusi pendamping di lingkungan sekolah dengan cara memberikan ruang kesekertariatan ataupun pusat informasi sesuai dengan bidang kompetensi yang dibutuhkan di institusi tersebut.

D. Upaya meningkatkan Softskill lulusan SMK Kehutanan Negeri
Upaya meningkatkan Softskill lulusan SMK Kehutanan Negeri dapat ditempuh dengan :

  1. Penerapan pendidikan karakter yang melibatkan multipihak
  2. Meluruskan mindset tentang peluang kerja lulusan SMK Kehutanan Negeri

Berdasarkan Perpres no 87 tahun 2017 penerapan pendidikan karakter melibatkan berbagai pihak tiddak hanya pihak sekolah tapi juga tokoh masyarakat, DUDI serta komite sekolah. Dalam perpres tersebut dipaparkan bahwa pendidikan karakter meliputi 5 aspek utama yaitu : Nasionalisme, kemandirian, Religius, Integritas dan Gotong royong. Kelima nilai tersebut hendaknya tertuang dalam proses pembelajaran baik dalam kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, penutup dan juga aspek penilaian. 5 pendidikan karakter mengajarkan keterampilan hidup yang sangat bermanfaat untuk kehidupannya kelak. Aspek pembiasan juga sangat diperlukan dalam 5 menanamkan 5 aspek utama ini. SMK Kehutanan Negeri melalui sistem asrama dan pola asuh semi militer telah melaksanakan. Namun harapanya 5 aspek utama tersebut tidak hanya dilaksanakan tapi melekat dan menjadi nilai bagian dari budaya sekolah.

Keterlibatan komite sekolah dalam penyelenggaraan sekolah termasuk di dalamnya pembinaan karakter juga tertuang dalam Permendikbud no 75 tahun 2016, dimana komite dapat memberikan masukan terhadap pengelolaan SMK. Hal ini sangata penting untuk menyamakan arah dan target pembinaan karakter yang dicapai. Pemilihan dewan komite yang bisa berasal dari tokoh masyarakat maupun wali murid dapat memberikan kontribusi yang positif. Kegiatan yang dilakukan bisa berupa pembinaan mental yang dilakukan bersama siswa setiap bulan.

Meluruskan mindset yang melekat di fikiran siswa, lulusan dan orang tua siswa itu sangat penting. Hal yang berkembang sekarang adalah lulusan SMK Kehutanan Negeri menginginkan menjadi PNS dan menghindari peluang kerja swasta serta wirausaha. Akibat dari hal ini lulusan SMK Kehutanan lebih memilih nganggur dari pada bekerja di lapangan. Dalam hal ini KaBP2SDMLHK telah menempuh kebijakan untuk memberikan kuota maksimal 50% bagi calon peserta didik yang berasal dari KTH melaui Peraturan Kepala badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nomor P.1 /P2SDM/SET/DIK.4/1/2020 yang mulai diterapkan tahun ini di 5 SMK Kehutanan Negeri di Indonesia. Tujuan dari kebijakan ini adalah agar lulusan yang berasal dari masyarakat sekitar hutan dapat membangun hutan bersama masyarakat melalui unit usaha KTH yang sedang digalakan oleh dirjen perhutanan sosial. Peluang kerja yang ditawarkan tidak sebatas rekrutmen CPNS tapi lebih kepada pengelolaan unit usaha perhutanan sosial yang dikelola oleh masyarakat sekitar hutan. Semoga kebijakan ini tepat sasaran dalam membidik motor penggerak pembangunan kehutanan indonesia.

Melalui peningkatan kualitas hardskill dan softskill SMK Kehutanan Negeri diharapkan lulusan SMK Kehutanan Negeri dapat mengisi dunia kerja dan mampu bersaing di era revolusi industri 4.0. Rimbawan Jaya!

0

You may also like

Peduli kesehatan diri dan sesama melalui aksi donor darah
Asa yang terputus
Gamang Sertifikasi Pranikah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *