Ingat hadits tentang kebersihan, mungkin sejak sekolah dasar anak atau bahkan cucu kita diminta menghafal annadhofatu minal iman bahwa kebersihan itu sebagian dari iman. Jadi pangkalnya iman itu diawali dari kebersihan. Baik itu kebersihan badan, kebersihan lingkungan dan kebersihan hati. Konsep ini harusnya sudah melekat sejak sekolah dasar bahkan balita. Namun aplikasinya susah diterapkan oleh generasi muda. Ada apa gerangan kebersihan itu sulit terwujud? Bagaimanakah cara mewujudkannya?

Manfaat kebersihan pasti terasakan, baik secara pribadi ataupun orang lain. Kebersihan pribadi diawali dengan proses bersuci, saat bangun pagi langsung wudhu bagi yang muslim. Jika tidak ada air dengan tayamum. Kunci utama tayamum yaitu membersihkan muka dan tangan. Diawali dengan membersihkan muka dan tangan, arti tersirat begitu bangun dari tidur ada sesuatu yang ditanamkan pada ruh yang suci bahwa saat pagi-pagi hari diawali dengan menjaga kebersihan badan. Aktifitas pertama kali setelah bangun tidur yaa bersih-bersih diri, itulah pendidikan pertama yang tidak pernah terlupakan dari orangtua. Artinya,  sebelum mengawali aktifitas yang lain, pasti diawali dengan kebersihan diri.

Kebersihan lingkungan, ditumbuhkan pertama kali dari keluarga. Pendidikan lingkungan diawali dari ibu. Ibulah sebagai madrasatul ula, pendidik pertama dalam keluarga. Peran ibu yang terpenting untuk menumbuhkan jiwa-jiwa yang peduli dengan kebersihan diri dan lingkungan. Tentunya, sang ibu menanamkan jiwa kebersihan yang sederhana pada putra-putrinya. Diawali dengan membangunkan pagi dan mengajak anaknya langsung ke kamar mandi. Putra-putri diajarkan untuk bersuci agar terbentuk pribadi jiwa pada ruh yang suci.

Pertama yang dichager berubah adalah pola pikir sang ibu. Tentunya perlu niat yang kuat dari para ibu-ibu muda untuk merubah diri agar bisa bangun pagi. Kunci perubahan itu ditentukan oleh ibunda-ibunda yang sholehah. Jadi, kedua orangtualah yang harus merubah diri untuk bangun pagi dan mensucikan niat membentuk generasi robani.  

Menumbuhkan wawasan generasi robani harus dipahami oleh para orangtua, sehingga secara fikroh ingin mewujudkan cita-cita yang mulia ini. Ingatlah, tanggung jawab utama dalam mendidik putra putri adalah kedua orangtuanya. Orangtualah yang dimintai pertanggungjawaban tentang putra putrinya dihadapan Sang Kholik nanti.

Menjaga kebersihan diri diawali dari keluarga, demikian juga pendidikan lingkungan. Pendidikan lingkungan paling sederhana diawali membuang sampah pada tempatnya. Perintah sederhana dirumah, diajarkan tanggung jawab sederhana pada putra putri kecil kita dengan memberi contoh nyata, mengingatkan pesan secara berulang, menegur dengan senyuman jika lupa, sehingga pesan itu bukan menjadi beban. Namun, perintah itu menjadi pesan yang menggembirakan bagi putra putri kecil kita. Mereka akan merasa ringan untuk melaksanakan perintah atau pesan yang orangtua sampaikan.

Pesan moral ini harus ditumbuhkan di sanubari, sehingga menjadi kebiasaan di seluruh keluarga. Orangtua agar selalu menyemangati pada putra putri selagi masih kecil agar menjaga kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya dimanapun mereka berada. Setiap hari, pesan itu selalu diulang dan jangan bosan menebarkan satu kebaikan dipagi hari saat mereka izin keluar rumah.  Pesan sederhana itu, sekali-kali dapat dievaluasi dengan memberi sanksi dan reward. Akhirnya, setelah dewasa nanti menjadi kebiasaan diri.

Bentuk kesadaran diri menanamkan karakter menjaga kebersihan dengan membuang sampah pada tempatnya diawali dari keluarga. Penyadaran diri lainnya, dapat dikembangkan berupa tanggung jawab untuk belajar menyapu, mencuci piring ataupun mencuci baju bersama orangtuanya. Belajar sambil bermain, ibu dan bapaknya dapat mengajarkan tanggung jawab pada putra putri tercinta. Menyelesaikan pekerjaan bersama antara orangtua dengan anaknya, walaupun hasilnya belum optimal merupakan proses pembelajaran yang bermakna. Tanggung jawab itu, terus dilatih dan dilatih serta perlu pendampingan sehingga hasilnya maksimal.

Langkah-langkah lainnya, bisa orangtua meluangkan waktu sejenak untuk sebuah kebersamaan dalam keluarga dengan kerjabakti bersama keluarga. Agendakan waktu untuk kerjabakti berupa bersih-bersih bersama keluarga, diakhiri dengan makan bersama di teras rumah akan menjadi kenangan berharga. Salah satu kegiatan sederhana tanpa memerlukan biaya yang besar, akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Di situlah, kesempatan orangtua mengajarkan tugas tanggung jawab di rumah  pada putra putrinya.

Kenangan bersama orangtua melakukan suatu proses yang hasilnya sempurna, pasti akan menjadi kenangan yang indah untuk tidak dilupakan. Proses pembelajaran dengan kasih sayang penuh, pasti akan bermakna bagi para pihak baik itu anak ataupun orangtua. Hal inilah, menjadi tonggak penumbuhan karakter pada generasi muda diawali dari keluarga.  Generasi muda yang tangguh berasal dari keluarga yang tangguh.

Tugas pada tingkatan sekolah dan Perguruan Tinggi tinggal membenahi dan menyempurnakan karakter-karakter yang belum kokoh. Peran orangtua dan sekolah saling bersinergi untuk menumbuhkan karakter-karakter yang mulia. Pekerjaan besar, antara dunia pendidikan dengan keluarga untuk merubah perilaku dalam menjaga dan menegakkan SDM yang peduli pada lingkungan haruslah terprogram dan terukur.

Jadi, pendidikan lingkungan diawali penggalakkan kebersihan dari keluarga, penanaman karakter prasekolah PAUD dan TK, aplikasi yang terukur pada saat duduk dibangku SD. Pada tingkatan SMP dan SMA membudayaan perilaku ramah lingkungan. Sampai pada tingkatan Perguruan Tinggi mengaplikasikan, membudayakan, mengevalusi dan bahkan meneliti permasalahan lingkungan. Sehingga pengetahuan ini, selalu berkesinambungan dan tidak boleh terputus sampai tuntaslah permasalahan lingkungan.

Dari sekolah dasar para murid disadarkan tentang bahaya sampah, memilah sampah, membatasi penggunaan sampah terutama plastik. Karakter ini, harus dibangun dari sekolah dasar karena mengukir karakter pada usia dinilah laksana mengukir di atas batu akan mudah terserap. Apalagi, anak usia dini ditumbuhkan kesadarannya melalui pemahaman yang kongkrit dan sekaligus mempraktekkannya dalam aksi nyata, maka pemahamannya akan sempurna. Perbuatan nyata peduli lingkungan dari sekolah harus didukung dari orangtuanya. Sehingga, pendidikan di sekolah teraplikasi di keluarga. Kontrol utama dari pendidikan lingkungan tentunya terkhusus dari para orangtua, gurunya, serta masyarakat sekitarnya.

Yakinlah, untuk menanggulangi permasalahan lingkungan terkhusus sampah yang paling tepat melewati jalur pendidikan yang terpadu. Melalui penumbuhan kesadaran medianya sekolah dan keluarga saling bersinergi. Mari kita, praktekkan dari yang sederhana dahulu untuk membuat aksi nyata diawali dari sekolah melalui peserta didik dan kontrol utama dari orangtua serta guru dan pengelola sekolah.

Permasalahan sampah Indonesia, kita menempati urutan kedua sedunia setelah china tentang pencemaran lautan atas sampah plastik. Jumlah polusi lautan atas sampah plastik sebesar 1.29 juta ton per tahun untuk Indonesia. (Sumber : Publikasi di www.sciencemag.org 12 Februari 2015). Sampah plastik akan terurai di tanah selama 20 tahun, jika sampah plastik berada di lautan akan memerlukan 100 tahun lebih untuk terurai dengan sempurna.

Sampah plastik menjadi permasalahan nasional dari hulu ke hilir, sehingga pemerintah telah menetapkan UU Nomor 18 tahun 2018 tentang pengelolaan sampah sebagai acuan. Untuk meminimalisir sampah, dari direktur pengelolaan sampah melalui pendekatan teknologi pengelolaan sampah, mendaur ulang sampah, dan membatasi penggunaan sampah plastik.

Paling strategis dan mudah diterapkan dengan membatasi atau meniadakan sampah plastik, tentunya melalui penyadaran seluruh lapisan masyarakat. Semuanya mempunyai peran apalagi warga negara yang baik pasti berusaha mengurangi sampah plastik, mengajak teman dan saudara untuk menggerakkan minim sampah one day no to plastic. Kampanye ke media sosial menggalakkan penggunaan kantong belanja non plastik, menyampaikan informasi bahaya polusi sampah, banyak ragam cara agar masyarakat sadar mengurangi sampah.

Sadarlah bahwa kerusakan lingkungan didominasi oleh sampah yang tidak terkelola dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan pelopor masyarakat peduli sampah pada setiap desa. Gerakan masyarakat peduli sampah (GMPS) guna mencegah kerusakan lingkungan dengan penerapan sistem 3 R. Sistem 3R yaitu Reuse, Reduce, dan Recycle. Reuse adalah menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama ataupun fungsi lainnya. Reduce yaitu mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah. Recycle yang berarti mengolah kembali (daur ulang) sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat.

Masing-masing warga mempunyai peran yang nyata agar permasalahan sampah di negeri kita teratasi. Mari bergandeng tangan, diniatkan dengan keikhlasan untuk menjaga bumi. Manusialah yang bertanggung jawab untuk memakmurkan bumi, karena manusia sebagai kholifah fil ardri.

Pustaka :
Ditektorat cipta karya, tata cara penyelenggaraan TPS 3R berbasis masyarakat, 2014.
UU Nomor 18 tahun 2018 tentang pengelolaan sampah. www.sciencemag.org 12 Februari 2015.

Dra. Maryati, M.Pd
Kepala SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru

0

You may also like

Strategi Peningkatan Kualitas Lulusan SMK Kehutanan Negeri dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0
Gamang Sertifikasi Pranikah
Pemanfaatan Penginderaan Jauh untuk Estimasi Produksi Kayu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *