Data dua belas kabupaten Provinsi Riau dari bulan Januari sampai dengan November 2019, menggambarkan angka pernikahan diimbangi dengan peningkatan angka perceraian. Penyebab perceraian 57.5% pertengkaran, 33.5% selingkuh, 8.7% meninggalkan salah satu pihak, dan 0.3% ekonomi dll (Riau Pos, 20 Desember 2019). Turut berduka atas banyaknya musibah perceraian. Lantas apa yang harus kita lakukan agar terhindar dari masalah ini? Perlukah sertifikasi pranikah bagi calon pengantin? Apa itu sertifikasi pranikah?

Kita sering dengar sertifikasi guru, sertifikasi kompetensi SMK, yang baru-baru ini didengungkan sertifikasi pranikah. Sertifikasi pranikah mempunyai tujuan meningkatkan kompetensi pranikah bagi calon pengantin (catin), bukan untuk memperkecil perceraian. Tujuan sertifikasi ini, harus diluruskan dahulu. Efek sertifikasi bisalah menghambat perceraian.

Kompetensi pranikah meliputi membangun ekonomi keluarga, kesehatan reproduksi, membentuk keluarga bahagia, dan pengasuhan anak. Lamanya bimbingan pranikah tiga bulan. Jadi ada persiapan ilmulah untuk membentuk keluarga baru. Hal ini, wajib dipaksakan untuk menjalani fase perubahan dalam berumah tangga.

Cakap benar, jika bisa dilakukan dan gratis lagi. Siapa yang tidak mau menambah ilmu pengetahuan baru? yaa tidak layak mendapat sertifikat. Resikonya, tidak mendapat pelayanan kesehatan, atau tidak mendapat layanan pendidikan. Bahkan, ditetapkan secara tertulis sanksi yang merugikan catin jika tidak mengikuti sertifikasi pranikah.

Fase berumah tangga, menggambarkan rumah yang bertangga. Menaiki tangga kehidupan, diperlukan pijakan yang kuat dan kokoh. Kuatnya kemauan untuk melawan badai kehidupan, sehingga bahtera itu mampu mengarungi samudera itulah ilmu dan iman.

Proses bimbingan selama tiga bulan perlu dipertimbangkan secara online, offline, atau tutorial video. Bahkan, bisa dilakukan ceramah umum dengan membedakan tempat dan waktu bagi calon pengantin perempuan dan laki-laki, agar tidak berbaur. Pengorbanan waktu, untuk menuntut ilmu wajib dihadiri catin tentunya diabsenlah kehadirannya. Minimal dengan kehadiran catin, melatih jiwa peduli meningkatkan kompetensi saat memasuki biduk rumah tangga.

Proses sertifikasi pranikah, tentu berbedalah dengan sertifikasi yang lain. Ujian sertifikasi ini, berupa wawancara penyelesaian suatu masalah guna menggali berpikir dengan mata hati catin. Akhirnya, catin setelah nikah dapat mengurai masalah dengan hati dan pikirannya. Petugas pewancara, ditugaskan pada pembimbing pranikah.

Proses sertifikasi pranikah yang telah dinyatakan lulus, maka diharuskan ada perpanjangan sertifikasi. Setiap sertifikasi guru saja, setiap tahunnya harus perpanjangan SIM. Nah, inilah peran sertifikasi yang sebenarnya. Artinya, setelah sertifikat menikah didapat, pasangan suami istri wajib memperpanjang sertifikat setiap tahunnya. Perpanjangan sertifikat, agar dapat menjalani kerasnya ombak bahtera kehidupan. Gunungkan ku daki, lautan akan ku arungi. Lirik lagu ini berkumandang, saat catin mengawali menjalani bahtera kehidupan.

Setahun, lima tahun, sepuluh tahun, lima belas tahun, dan dua puluh tahun, bahtera keluarga pasti ada ombak atau badai dalam menjalani kehidupan. Namun, percayalah ombak itu akan berlalu jika kita mempunyai iman yang kuat. Permasalahan pasti selalu ada, tergantung bagaimana menyikapi hati ini. Dalam menyelesaikan permasalahan itu, diperlukan ilmu dan iman disetiap pasangan dalam menjalani bahtera.

Menimba ilmu hukum wajib, tidak boleh berhenti setelah menikah. Hal ini, untuk menguatkan ikatan perkawinan kedua pasangan. Tahun pertama pernikahan pasti muncul batu-batu sandungan. Sehingga, pasangan suami istri baru memerlukan arena untuk menyingkirkan batu sandungan itu. Wadah yang tepat untuk belajar bertukar pikiran dengan sesama ya hadir di majelis ilmu.

Melalui taklimlah, menjembatani bagi para ibu mengembangkan potensi diri secara rutin perminggu. Banyak manfaat yang didapat menghadiri taklim atau pengajian. Kita bisa banyak belajar dari pengalaman para jamaah yang hadir. Belajar dari kelebihan dan kebaikannya, belajar berempati antar sesama jamaah, berusaha menjalin persahabatan dan silaturahmi, atau bahkan bisa berbagi dalam suka dan duka. Hal inilah, wadah yang diperlukan setelah usai menikah. Jika tidak bisa hadir dalam pertemuan mingguan bisalah hadir dalam pertemuan bulanan. Jadi, lisensi sertifikasi pranikah dapat dipantau dari kehadiran keluarga baru hadir di majelis ilmu.

Oleh karena itu, setiap desa atau RT agar membentuk majelis ilmu atau taklim. Pemantauan aktifitas keluarga baru guna mendukung kelayakan menerima sertifikasi setelah menikah dapat dilakukan dengan bantuan perangkat desa atau RT. Pada tahun pertama dipantau saja, titik api permasalahan keluarga pasti terlihat di warga RT setempat. Sebelum api membesar, carilah solusi mengatasi bahtera rumah tangga itu melalui peran majelis ilmu.

Spirit beramal dalam majelis ilmu, dapat dilaksanakan dengan cara sederhana saling bertegur sapa dengan tetangga, berbagi senyuman antar peserta. Intinya, terbangunnya sosialisasi warga setempat agar dapat saling kenal dengan seluruh anggota keluarga, saling tolong menolong, saling senasib dan sepenanggungan dalam membentuk keluarga baru. Masing-masing individu bisa bersinergi menguatkan hati dan iman dalam menghadapi gelombang rumah tangga.

Lingkungan yang baik, dihasilkan dari kelurga-keluarga yang harmonis. Keluarga yang harmonis bersumber dari pribadi-pribadi yang berakhlaq. Sumber akhlaq yaa kitab suci, bagi yang muslim seberapa dekat mereka berinteraksi dengan Al Qur’an. Pusat ilmu itu terdapat pada Al Qur’an, karena kitab suci petunjuk kehidupan.

Keaktifan membaca Al Qur’an akan mendapat bimbingan kehidupan dari Sang Ilahi. Pengamalan Al Qur’an melalui berinteraksi dengan sesama, itulah ajaran yang lurus. Ajaran islam, tidak memisahkan ibadah dan bermuamalah. Bermuamalah dengan warga setempat termasuk suatu ibadah. Nah, ini jalan sertifikasi berkelanjutan diaplikasikan bagaimana keluarga baru mampu bermuamalah dengan sesama, minimal tetangga kanan kiri empat puluh rumah disekitarnya. Masya Alloh, indahnya islam dapat dinikmati oleh seluruh tatanan kehidupan.

Tujuan nikah terbentuknya keluarga sakinah mawadah warahmah. Untuk mencapai tujuan yang benar gapailah ilmu agama melalui bermuamalah dengan sesama yaa taklimlah. Niatkan, habis taklim pasangan suami istri (pasutri) dapat mempraktekkan ilmunya dalam keluarga dan masyarakat. Dengan ilmunya itu, pasutri diharapkan tumbuhlah keimanan yang kuat. Iman yang kuat diawali dengan mengilmui.

Kenapa dalam mewujudkan keimanan memerlukan wadah taklim? Karena dalam beramal memerlukan semangat amal jama’i. Disinilah peran taklim diperlukan, bahwa amal berjama’i akan memunculkan motivasi bersama dalam meningkatkan keimanan. Itulah, pentingnya jamaah atau taklim dalam mewarnai sertifikasi pranikah. Yakinlah, dengan menanamkan ilmu dan iman sepanjang hayat pada pasutri pastilah sertifikasi pranikah akan bermanfaat.

Perlu kita renungkan, bahwa baik dan buruknya suatu bangsa tergantung dari warga negaranya. Warga negara itu adalah kumpulan dari individu-individu, apabila individunya soleh maka individu yang sholeh akan membina keluarga yang sholeh. Akhirnya, terciptalah sebuah keluarga yang rukun damai dan bersama-sama menuju kebaikan sebagaimana dalam Quran Surah At Tahrim ayat 6: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”.

Individu yang sholeh adalah individu yang mampu menjaga dirinya dan mengarahkan keluarganya pada jalan menuju kebaikan, serta mampu menjaga keluarganya dari jalan kejahatan agar tidak terjatuh ke dalam jurang kesesatan. Hal inilah, menjadi impian kita bersama untuk mewujudkan warga negara yang mampu memberikan kontribusi positif buat keluarga, lingkungan dan negaranya. Diawali dengan menumbukan ilmu dan iman pada catin, proses sertifikasi pranikah bermanfaat untuk mewujudkan bahterai kehidupan yang bahagia.

Dra. Maryati, M.Pd
Kepala SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru

0

You may also like

Strategi Peningkatan Kualitas Lulusan SMK Kehutanan Negeri dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0
Asa yang terputus
Pemanfaatan Penginderaan Jauh untuk Estimasi Produksi Kayu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *