Lambok P. Sagala
Guru SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru
(Tulisan ini merupakan ringkasan hasil keikutsertaan penulis dalam Kegiatan Mobile Seminar on Planning and Managing Tourism in Protected Area yang diselenggarakan oleh Colorado State University pada tanggal 5 – 21 September 2019 dengan sponsor International Tropical Timber Organization/ITTO)

IUCN memberi definisi kawasan dilindungi sebagai ruang dengan pembatas geografis yang jelas, diakui, diabdikan dan dikelola menurut aspek hukum maupun aspek lain yang efektif, untuk mencapai tujuan pelestarian alam jangka panjang, lengkap dengan fungsi – fungsi ekosistem dan nilai – nilai budaya yang terkait. Amerika Serikat sendiri memiliki 34,075 kawasan dilindungi dengan luasan mencapai 4,760,620 km2. Kawasan dilindungi ini terdiri dari wilayah daratan (terrestrial) yang mencakup 12,99 % dari total luas daratan dan wilayah lautan (marine) yang mencakup 41,06 % dari total luas laut Amerika (protectedplanet.net). Kawasan dilindungi di Amerika Serikat terdiri dari berbagai kategori, diantaranya wilderness area (kawasan hutan belantara), national park (taman nasional), national conservation areas (kawasan konservasi nasional), national recreation areas (kawasan rekreasi nasional), national wildlife refugee (kawasan perlindungan satwaliar nasional), national monument (monument nasional), dan wild and scenic rivers (sungai liar dan alami). Pengelolaan kawasan konservasi juga tidak dilakukan oleh satu instansi/lembaga tetapi oleh berbagai pihak (pemerintahan pusat/federal government, propinsi/state, lokal, suku asli Amerika, swasta/private land conservation, serta melalui public – private partnerships). Pemerintah pusat yang mengelola kawasan dilindungi juga bermacam – macam diantaranya Department of Interior yang memiliki beberapa lembaga khusus pengelola kawasan konservasi yaitu National Park Service, Fish and Wildlife Service, Bureau of Land Management, Bureau of Reclamation, Bureau of Indian Affairs. Departemen of Agiculture juga mengelola kawasan konservasi melalui Forest Service. Department of Commerce melalui National Oceanic and Atmospheric Administration. Kawasan konservasi juga dikelola oleh Department of Defense.

Seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin baik, berwisata saat ini seolah – olah telah menjadi kebutuhan primer. Jim Barborak, kooordinator seminar, dalam presentasinya menunjukkan bahwa secara global pada tahun 2013 terdapat 1.087 juta kunjungan wisatawan internasional dan diproyeksikan pada tahun 2030 akan mencapai 1.8 miliar. Wisata sendiri memberi kontribusi 9 % dari total GDP dunia. Bepergian ke kawasan dilindungi juga menunjukkan trend yang semakin positif. Masyarakat berlomba – lomba kembali ke alam untuk menikmati keindahan alam dan untuk sekedar meninggalkan kehidupan perkotaan yang dipenuhi problematika. Peneliti Universitas Cambridge menunjukkan bahwa setiap tahunnya taman nasional dan cagar alam dikunjungi oleh 8 miliar pengunjung yang menghasilkan USD 600 miliar pengeluaran wisata. Jennifer Newton, social scientist Taman Nasional Grand Teton, dalam presentasinya menyampaikan bahwa taman nasional  yang paling banyak dikunjungi di Amerika Serikat adalah Taman Nasional Great Smoky Mountain dengan jumlah pengunjung sebanyak 11, 421,200 disusul Taman Nasional Grand Canyon dengan jumlah pengunjung yang mencapai 6,380,495 sedangkan Grand Teton sendiri berada di urutan sembilan dengan total pengunjung 3,491,151. Jennifer dalam presentasinya juga menyampaikan bahwa total pengeluaran pengunjung adalah USD 590 juta yang dihabiskan untuk biaya camping, BBM, hotel, dan sebagainya. Taman Nasional Grand Teton juga mampu mencetak 8,690 lapangan pekerjaan.   

Pada saat seminar, kami berksempatan untuk mengunjungi 9 (sembilan) protected area di 3 (tiga) states seperti terlihat pada tabel di bawah:

Beberapa aspek menarik terkait pengelolaan wisata di kawasan dilindungi di atas diantaranya:

  • Untuk meningkatkan kualitas kunjungan, pengelola kawasan dilindungi khususnya taman nasional melakukan kerjasama dengan konsesi. Perusahaan pemegang konsesi ini diberi kewenangan untuk menjalankan bisnis terkait kegiatan wisata misalnya untuk mengelola penginapan, visitor center, toko souvenir, restaurant, camping ground, fotografi, dan sebagainya . Menurut Jim Barborak, sistem ini sangat bagus mengingat instansi pemerintah biasanya terkendala dalam biaya dan kurang ahli dalam menjalankan bisnis dikarenakan fokus pada aspek konservasi wilayah. Keberadaan konsesi ini tidak hanya meningkatkan kepuasan pelanggan tetapi juga meningkatkan pemasukan bagi taman nasional. Hal ini dikarenakan pemegang konsesi memiliki kewajiban untuk menyerahkan biaya konsesi yang selanjutnya dapat digunakan untuk operasional taman nasional. Proses pemilihan konsesi juga bukanlah perkaran mudah. Perusahaan yang tertarik wajib membuat proposal untuk disampaikan pada saat pelelangan dan pengelola taman nasional memiliki kriteria minimum yang wajib dipenuhi. Untuk memenangkan lelang perusahaan pastinya akan meningkatkan standar. Beberapa aspek yang dinilai dalam pemilihan pemenang lelang diantaranya aspek finansial untuk menjamin pemilik konsesi mampu menjalankan usaha, pengalaman, aspek lingkungan, dan sebagainya. Salah satu pemegang konsesi di Mount Rushmore yaitu Xanterra bahkan menjalankan sustainable business di areal tersebut. Perusahaan  tersebut mengembangkan solar panel, menggunakan sumber energy dari wind farm, mampu mengurangi konsumsi air sebesar 50 %, dan 80 % produk berasal dari produk lokal dan sustainable.
  • Salah satu prinsip pengelolaan kawasan dilindungi di Amerika Serikat adalah wilayahnya dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat. Oleh karena itu, taman nasional misalnya memiliki konektivitas infrastuktur jalan yang bagus. Selain itu, pengelola kawasan dilindungi juga menyambut senior citizen, maupun disable people melalui penyediaan fasilitas yang ramah bagi golongan masyarakat tersebut. Terdapat parkir khusus bagi penyandang cacat, trail yang dibangun mampu mengakomodir pengguna kursi roda, di visitor center terdapat informasi dengan berbagai macam bahasa.
  • Untuk mengatasi keterbatasan Sumber Daya Manusia, pengelola kawasan konservasi melibatkan volunteer, maupun seasonal staff. Hampir di semua kawasan konservasi terdapat volunteer maupun seasonal staff khususnya pada saat summer dimana jumlah pengunjung sangat banyak. Di grand teton maupun Yellowstone misalnya volunteer membantu melakukan survey kepada pengunjung. Seasonal staff membantu pengelola menjalankan kegiatan usaha. Di Yellowstone terdapat 11 seasonal ranger untuk membantu pengelolaan camp, Taman Nasional Badlands memiliki sekitar 70 – 80 additional seasonal staff, Xanterra company bahkan memiliki 3500 seasonal staff.  Pengelola memberikan keuntungan khusus sehingga mereka tetap bekerja di kawasan tersebut.
  • ‘Find your park” merupakan sebuah kampanye yang diselenggarakan oleh pemerintah untuk merayakan 100 tahun keberadaan National Park Service (NPS). Kampanya ini sekaligus menjadi ajakan bagi masyatakat untuk mengunjungi dan melihat keindahan wilayah yang dikelola National Park Service, sejarah inspirasional didalamnya, sumberdaya alam yang dimiliki, dan keberagaman warisan budaya Amerika. Gerakan ini memberikan dampak yang cukup besar bagi kunjungan wisata dimana pada saat diluncurkan (tahun 2016) jumlah kunjungan ke taman nasional meningkat drastis. Di Yellowstone misalnya pada tahun 2015 jumlah kunjungan wisatawan 4,1 juta dan pada tahun 2016 naik menjadi 4,3 juta wisatawan.
  • Program Junior Park Ranger merupakan salah satu contoh yang baik bagaimana pengelola kawasan konservasi melibatkan warganya khususnya anak – anak agar lebih dekat dengan alam. Keikutsertaan dalam Junior Forest Ranger akan meningkatkan rasa memiliki sehingga dapat mengubah paradigma seseorang terhadap pentingnya kawasan dilindungi. Setelah mengikuti Junior Park Ranger, peserta kegiatan akan diberikan badge (lencana). Selain itu, Rocky Mountain Conservancy, salah satu NGO di Taman Nasional Rocky Mountain mengadakan 6 (enam) kursus/pelatihan konservasi. NGO ini juga menggalang dana dari masyarakat melalui program membership, donasi, dan program honor and memorial gifts. Jumlah donasi sebesar USD 35 dan donatur akan mendapatkan update informasi terkait kegiatan NGO tersebut. Honor dan memorial gift ini ditujukan bagi mereka yang ingin mengenang/menghormati seseorang atau merayakan pernikahan, ulang tahun, atau acara khusus lainnya. Dengan memberikan donasi lewat program honor and memorial gifts, nama donatur akan dicantumkan pada lempengan dan ditempel pada Donor Recognition Wall di salah satu pusat pengunjung di Taman Nasional Rocky. Selain itu, pada hampir seluruh kawasan konservasi dilindungi yang saya temui juga terdapat donation box dimana donation box ini berupa kotak – kotak kecil dan pada bagian atas ditempel bendera asal negara pemberi donasi. NGO ini juga menyediakan dana USD 1,5 million untuk proyek prioritas di Taman Nasional Rocky Mountain. Menurut Jim Barborak, kerjasama antara NGO dan taman nasional ini merupakan salah satu contoh terbaik bagaimana ke dua pihak saling mendukung untuk mencapai visi masing – masing.
  • Smokey Bear adalah salah satu icon lainnya yang diluncurkan pada tahun 1944 sebagai bentuk edukasi terhadap warga Amerika akan bahaya kebakaran hutan. Figur ini mendapat atensi yang sangat baik setelah kampanye fire prevention program tampil dalam program Walt Disney “Bambi”.
  • Survey terhadap pengunjung dilakukan secara rutin sebagai media untuk mengevaluasi pengelolaan wisata. Terdapat juga survey kontribusi taman nasional terhadap sector perekonomian yang hasilnya dapat diakses secara online melalui website berikut: https://www.nps.gov/subjects/socialscience/vse.htm. U.S. Forest Service  melakukan survey secara nasional setiap 5 tahun sekali melalui National Visitor Use Monitoring Program. Survey ini diharapkan dapat membantu Forest Service dalam mengelola sumberdaya yang ada sehingga dapat menjaga keseimbangan antara kebutuhan pengunjung dan konservasi sumberdaya alam.
  • Di taman nasional terdapat bagian interpretation and education division yang bertujuan untuk menyampaikan pesan maupun memandu para pengunjung. Berbeda dengan pemandu, interpreter berusaha membangkitkan ikatan emosional dan intelektual para pengunjung sehingga mampu menghasilkan perubahan sikap terhadap kawasan. Interpreter yang kami temui diantaranya Jeremy dari Fort Laramie dan William Restrepo dari Taman Nasional Rocky Mountain. Meski hanya menggunakan lembaran kertas, William Restrepo mendapatkan sambutan yang sangat positif dari peserta dan bahkan ada beberapa yang sampai meneteskan air mata. Sementara itu  Jeremi menganggap dirinya terlahir sebagai seorang interpreter dan dalam menyampaikan pesan terlihat sangat passionate.  



0

You may also like

Pemanfaatan Penginderaan Jauh untuk Estimasi Produksi Kayu
Asyiknya Belajar Dendrologi Melalui Ecoprint Basic Sutera
EKSISTENSI SASTRA HIJAU DI PROVINSI RIAU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *