Binti Masruroh, S.Hut
Guru Muda SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru

       Ecoprint adalah salah satu upaya pemanfaatan bagian tanaman berupa daun sebagai pewarna alami. Dalam hal ini tidak hanya warna alami yang dimanfaatkan tapi juga motif khas dari daun. Setiap daun memiliki motif dan warna yang unik. Hal ini sangat menarik untuk dikembangkan karena cukup diminati oleh masyarakat luas.

       Selain meghasilkan warna dan motif daun, ecoprint juga bisa diterapkan dalam pembelajaran dendrologi. Dendrologi adalah salah satu nama mata pelajaran di SMK Kehutanan yang mempelajari identifikasi jenis tanaman dengan mengenali dari morfologi bagian tanaman. Pelajaran ini cukup menjadi momok bagi siswa siswi. Dengan menerapkan ecoprint dalam pembelajaran dendrologi diharapkan akan menarik minat siswa dalam pembelajaran. Mengapa demikian? Karena ecoprint bisa menghasilkan produk yang bisa dipakai dan bernilai jual tinggi. Jadi ada 2 keuntungan bisa diraih sekaligus, pertama siswa siswi belajar dendrologi dan yang kedua belajar wirausaha dengan menghasilkan produk.

Adapun alat dan bahan yang diperlukan adalah :
1. Daun yang masih segar
2. Nampan untuk mencuci dan merendam masing-masing 1
3. Plastik transparan sebanyak 2 lembar dengan ukuran masing-masing 60 x 200cm
4. Air kran
5. Air hangat 70’C
6. Larutan cuka 70%
7. Larutan tawas 10%
8. Larutan tanjung 10%
9. Paralon ukuran 60 cm 2 batang
10. Kain sutera 50 x 180 cm

Langkah-langkah pembuatan ecoprint adalah :
1. Mencuci semua daun dengan pelan tanpa merusak struktur daun
2. Meniriskan dan mengelapnya
3. Pisahkan daun berdasarkan kemampuan menghasilkan warna
     a. Nampan A untuk daun yang tidak butuh perlakuan awal tapi bisa langsung digunakan yaitu daun jati dan  daun lanang
     b. Nampan B untuk jenis daun yang memerlukan perendaman air hangat 70’C berupa daun genitri, biksa dan Eucalyptus. Lama perendaman 10 menit
     c. Nampan C untuk jenis daun yang memerlukan perendaman air hangat 70’C dilanjutkan dengan perendaman tawas atau tunjung 10% berupa daun kersen, jarak dan mindi. Lama perendaman pada masing-masing larutan 10 menit.
4. Daun ditiriskan dan kembali dilap
5. Tanpa perlakuan : Jati, Lanang
6. Perendaman air 80′ selama 10 menit : Genitri, Biksa, Eukalyptus
7. Perendaman air 80′ dan perendaman tunjung 10gr/liter : Kersen, Jarak, Mindi
8. Dilap sampai kering
9. Bentangkan plastik transparan dilantai yang rata
10. Semprot permukaan plastik dengan air agar kain bisa melekat
11. Bentangkan kain sutera tanpa ada kerutan
12. Susun daun yang sudah dilakukan perlakuan sesuai dengan motif yang diinginkan
13. Tutup kembali dengan plastik transparan sehingga tatanan daun tidak bergeser tetap pada tempatnya
14. Gulung menggunakan paralon dengan hati-hati agar tatanan daun tetap utuh
15. Ikat dengan benang kasur sampai kencang
16. Rebus gulungan kain selama 3 s/d 4 jam
17. Kering anginkan selama 7 hari
18. Celup dengan larutan tawas 10%
19. Kering anginkan kembali
20. Kain bisa dicuci, dikeringkan dan digunakan

       Pemanfaatan kain hasil ecoprint bisa digunakan sebagai pasmina. mukena ataupun gamis. Adapun jenis daun yang paling gampang dijadikan bahan ecoprint adalah jati dan lanang. Warna yang sangat kuat dan tanpa memerlukan perlakuan pendahuluan membuat 2 jenis daun ini digemari oleh para peserta diklat. sebenarnya masih banyak jenis daun yang bisa kita jadikan bahan ecoprint, namun kita harus uji coba terlebih dahulu sehingga hasilnya maksimal. tidak terbayang jika keindahan dedaunan hutan tropis indonesia terekam dalam motif ecoprint.



 

0

You may also like

Berwisata di kawasan dilindungi
EKSISTENSI SASTRA HIJAU DI PROVINSI RIAU
Affirmasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *