Bagian I: Bercinta Ala SMK

Oleh: Yunita Sari, S.Pd.

(Guru Bahasa Indonesia SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru)

Pendahuluan

Agaknya sastra terlahir dari proses kegelisahan seseorang atas kondisi masyarakat pada masa tertentu. Sastra sering juga dianggap sebagai ungkapan dan potret sosial. Ia dipandang juga memancarkan semangat zamannya. Dari sanalah, sastra memberi pemahaman yang khas atas situasi sosial, kepercayaan, ideologi, dan harapan-harapan individu yang sesungguhnya merepresentasikan kebudayaan bangsanya. Dalam konteks itulah, mempelajari sastra suatu bangsa pada hakikatnya tidak berbeda dengan usaha memahami kebudayaan bangsa yang bersangkutan. Dengan perkataan lain, mempelajari kebudayaan suatu bangsa tidak akan lengkap jika keberadaan kesusastraan bangsa yang bersangkutan diabaikan. Di situlah kedudukan kesusastraan dalam kebudayaan sebuah bangsa. Ia tidak hanya merepresentasikan kondisi sosial yang terjadi pada zaman tertentu, tetapi juga menyerupai pantulan perkembangan pemikiran dan kebudayaan masyarakatnya.

Munculnya Sastra Hijau

Bumi kini terancam kehancuran. Ancaman kehancuran itu timbul akibat ulah manusia yang mengeksplorasi bumi tanpa perhitungan, hingga menghancurkan lingkungan hidup yang sudah melebihi batas toleransi. Eksplorasi bumi dengan berbagai motif ekonomi sulit dikendalikan karena dilakukan oleh pihak-pihak yang kuat dan berkuasa di dunia.

Di Indonesia, begitu maraknya dan masivnya kerusakan hutan adalah  akibat eksplorasi tambang, penebangan kayu, pengeboran minyak, pembukaan ladang sawit besar-besaran, pembakaran hutan untuk kepentingan kelapa sawit yang sangat merusak, serta pembangunan pariwisata yang tidak mengindahkan keseimbangan alam setempat. Semuanya itu membuat alam menjadi semakin terpuruk dan lama kelamaan akan habis dan sirna.

Keadaan seperti itu tidak bisa dibiarkan. Bagaimana pun, hutan sebagai paru-paru dunia harus diselamatkan. Sebab, kehancuran hutan Indonesia berarti kehancuran seluruh warga Indonesia, bahkan akan berdampak ke negara-negara lainnya.

Warga Indonesia belum terlambat untuk menyelamatkan hutan dan bumi. Tentu tidak mudah, sebab memang tidak ringan perjuangan untuk menyelamatkan bumi kita. Saat ini adalah waktunya untuk setiap warga Indonesia, baik selaku individu maupun institusi bergerak, bekerja secara serius dan efektif, sesuai dengan kapasitas dan potensinya masing-masing. Langkah-langkah nyata, mulai dari gerak preventif hingga kuratif perlu dilancarkan secara saksama dan berkesinambungan. Satu di antara langkah nyata itu adalah gerakan penyadaran (conscientization), mulai aksi lokal, nasional,regional hingga bertaraf global.

Salah satu upaya penyelamatan melalui proses penyadaran dapat dilancarkan melalui gerakan budaya (cultural) terutama dengan memanfaatkan kekuatan sastra, baik dalam bentuk prosa maupun puisi. Kelebihan dan keunggulan sastra, ia memiliki potensi yang ampuh dalam menyadarkan hati nurani manusia sejagat, tanpa harus bernada menggurui atau propaganda yang terlalu bombastis. Dari sinilah bermula munculnya istilah Gerakan Sastra Hijau di Indonesia.

Apakah Sastra Hijau? Mengapa tidak Sastra Pelangi?

Jika memandang sebuah benda dengan satu warna polos saja tentu tidak asyik. Perpaduan warna seperti pelangi pastinya akan terlihat lebih indah. Namun, istilah ‘sastra hijau’ bukanlah persoalan warna yang bisa saja diubah dengan istilah ‘sastra merah’, ‘sastra kuning’, atau bahkan sastra pelangi. Tetapi, sastra hijau adalah istilah untuk sebuah gerakan yang diadopsidari konsep ecocriticism yang pertamakali digunakan oleh William Rueckert (1978) dalam esainya Literature and Ecology: An Experiment in Ecocriticism

Cheryll Glotfelty dan Harold Fromm (1996) kembali mengetengahkan gagasan tentang ekokritisisme atau ecocriticism,lewat esainya yang berjudul “TheEcocriticism Reader: Landmarks in Literary Ecology“. Melalui desain yaitu mereka bermaksud untuk mengaplikasikan konsep ekologi ke dalam sastra, dimana pendekatan dilakukan dengan menjadikan bumi (alam) sebagai pusat studinya.Ekokritisisme sendiri secara sederhana dapat didefinisikan sebagai sebuah studi tentang hubungan antara sastra dan lingkungan hidup (Glotfelty).

Konsep ecocriticismsejak abad ke-19 telah dianut gerakan sastra di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Australia, Jepang, Cina dan beberapa negara di Eropa seperti Swedia, Swiss, Inggris, Belanda, dan Jerman. Di Indonesia, Gerakan Sastra Hijau dimotori oleh Perhutani, dalam bentuk penerbitan buku yang berjudul ‘Seni Menulis Sastra Hijau’.

Sastra Hijau didefinisikan sebagai ‘sastra yang menawarkan inspirasi dan ajakan untuk menyelamatkan bumi’ (Pranoto, 2013).Sebagai sebuah studi sastra, Sastra Hijau (ekokritisisme) tentu berbasis lingkungan, beretika refleksi, dan sebagai kritik atas asumsi antroposentris. Manusia sebagai pengendali bumi tentu mengkaji Sastra Hijau dengan menitik beratkan pada usaha-usaha manusia dalam mencegah kerusakan-kerusakan dibumi. Penerapan dalam kajian sastra harus didasari atas ilmu tentang penyebab-penyebab kerusakan bumi. Gerakan Sastra Hijau ini muncul tentunya disebabkan oleh rasa cinta manusia kepada alam.

Bercinta Ala SMK

Rasa cinta kian menggebu di SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru. Rasa cinta kepada alam membuat segenap stakeholder menjadi giat dan menggeliat untuk bercinta dengan alam.Bercinta dengan alam yang dimaksud bukanlah seperti ecosexual yang dilakukan seseorang sebagai suatu kelainan seksual.Namun, bercinta dengan alam dalam hal ini adalah meluapkan rasa sayang, selalu mengungkapkan pujian, perhatian, peduli, ingin menjaga, merawat, dan berharap akan tetap bersama alam melalui kata-kata pragmatis. Bercinta lewat kata.Itulah lebih tepatnya. Ya, bercinta ala SMK.

Di SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru, rasa cintakepada alam telah terbukti dengan hidupnya Sastra Hijau beberapa tahun terakhir. Banyak karya sastra siswa dan guru, baik puisi maupun cerpen yang telah diterbitkan dalam bentuk bukuber-ISBN. Sebut saja ‘Tetap Jaga Hingga Nanti Musim Berganti’ yang diterbitkan oleh Penerbit Bintang Pelangi pada Mei 2015. Buku ini berisi kumpulan puisi dancerpen hasil keroyokan siswa dan guru yang berkisah tentang kehidupan ‘merah hitam cinta’ di rimba. Adapunpenulis-penulis yang turut berpartisipasi antara lain Dyah Purbo Arum Larasati, Mahtuf Ihsan, dkk.

Masih bersama Penerbit Bintang Pelangi, buku ‘Doa Kepompong di Bulan Juni’ juga berhasil diterbitkan pada Juni 2016. Buku tersebut merupakan antologi cerpen, esai, dan puisi karya siswa dan guru. Didalam buku ini, para guru lebih banyak turut serta dibandingkan dengan buku sebelumnya. Adapun guru-guru yang ikut nyumbang tulisan adalah Binti Masruroh, S.Hut., Lambok P. Sagala, S.Hut. M.Sc., Tri MayaSari, S.Hut. M.Si., dan Tuhu Esti Wijayanti, S.Hut.

Tidak hanya itu. Para penulis di SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru juga gemar berinfak melalui karya sastra. Misalnya saja buku kumpulan puisi berjudul ‘Semangat Baru untuk Rohingya’ yangditerbitkan oleh Penerbit Ernest pada 2015. Salah satu rimbawan SMK yakni Dyah Purbo Arum Larasati yang saat itu masih menjadi siswa kelas XI menghimpun dana bersama teman-teman lainnya dengan mencetak buku tersebut dan hasil penjualannya disumbangkan untuk masyarakat Rohingya yang menjadi korban krisis kemanusiaan.

Selain itu, sebuah cerpen berjudul ‘Temaram’ karya Yunita Sari, S.Pd. yang diterbitkan bersama puisi dan cerpen sastrawan-sastrawan Riau yang terhimpun dalam Forum LingkarPena (FLP) telah juga diterbitkan oleh Penerbit Soega Publishing pada 2015 bertajuk‘Riwayat Asap’. Buku tersebut merupakan buku keroyokan para sastrawan Riau yang didedikasikan sebagai salah satucara sastrawan dalam menghimpun dana untuk membantu korban kebakaran hutan pada saat itu, yakni melalui hasil penjualannya.

Tidak sampai disitu,cerpen Temaram yang mengisahkan seorang wartawati yang dikejar-kejar para pembalak hutan saat meliput peristiwa kebakaran hutan pun telah digubah menjadi skenario film yang diperankan oleh siswa-siswi SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru pada 2016 dan sempat shooting untuk beberapa scene. Namun, belum rampung hingga kini bersebab sesuatu dan lain hal.

Semua kegiatan kesusastraan di SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru yang telah dipaparkan di atas adalah tidak lain sebagai bukti bahwa seni sastra dapat hidup, tumbuh, dan berkembang di mana saja, termasuk di‘rimba’. Semuanya terjadi karena cinta para rimbawan terhadap alam Indonesia. Inilah ‘cinta ala SMK’. SMK Bisa!

0

You may also like

Berwisata di kawasan dilindungi
Asyiknya Belajar Dendrologi Melalui Ecoprint Basic Sutera
Affirmasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *