Binti Masruroh, S.Hut – Guru Muda di SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru

Bukan berbuah lebah, tapi tempat bergantungnya kerajaan lebah. Dengan pagar adat masyarakat pinggiran hutan, madu yang dihasilkan bisa dinikmati secara turun-temurun. Sayang, kini terancam oleh masyarakat luar.Sialang itu sebutan bagi pohon tinggi besar yang dihuni oleh ratusan kerajaan lebah. Puncaknya menjulang jauh di atas atap hutan. Maklum, tingginya rata-rata 50 m atau lebih dengan garis tengah batang 2 m. Kebanyakan berdaun kecil sehingga kalau angin bertiup, ya lewat saja. Jadi, tidak gampang tumbang oleh topan badai. Beberapa contoh pohon sialang itu antara lain pohon benuwang Octomeles sumatrana, cempedak air Artocarpus maingayi, pohon tualang Koompassia parvifalia, dan Menggeris K. excelsa. Di Kalimantan jenis ini terkenal sebagai pohon tapang (pohon lebah).
Lebah hutan memilih cabang yang terbuka, bebas dedaunan, di daerah atasan pohon, untuk membangun sarang gandul yang bisa didarati dan ditinggallandasi dengan bebas. Satu dahan bisa ditempati 20 sarang lebah. Pada satu pohon kadang bisa ditemukan 100 – 200 sarang gandul seperti itu.
Penduduk pinggir hutan selalu melestarikan pohon sialang yang meraksasa semacam itu. Bukan karena percaya bahwa pohon itu dihuni oleh roh halus mahasakti, tetapi karena sarang lebah yang bergantungan pada dahannya bisa menghasilkan uang. Kalau ada bagian hutan yang dibabat untuk dijadikan ladang bertanam padi atau jagung, pohon sialang selalu dibiarkan tetap berdiri. Tidak boleh diikutsertakan dalam proyek tebang habis. Lagi pula kayunya yang sudah tua begitu keras, sehingga bisa merusak mata kapak dan gergaji. Tidak mengherankan jika kaum lebah hutan suka tinggal di pohon aman yang tidak diganggu itu. Ini benar-benar sumber madu yang bisa memberi manfaat turun-temurun kepada seluruh suku bangsa. Sarang (kerajaan) lebah selalu dipimpin oleh seekor ratu yang tugasnya kawin dan beranak melulu. Sarang gandul mereka berbentuk kerucut terbalik. Bagian pangkal yang lebar menempel pada dahan, sedangkan ujung kerucut yang runcing menyambung di bawahnya. Bagian yang mengandung madu ialah pangkal yang lebar itu. Bagian tengah berisi anak-anak lebah, sedangkan ujung bawahnya cuma berisi kotoran serta lilin lebah.
Adalah Bapak Ramli / Bapak Tangguk, ketua kelompok tani madu imbo kaluang. Peraih penghargaan petani madu hutan lestari dari Kampar yang diberikan oleh KemenLHK. Kerja kerasnya bersama anggota kelompok tani madu mulai membuahkan hasil. Di tengah maraknya peredaran madu palsu, madu sialang dari petani madu imbo kaluang tetap bertahan. Bahkan para konsumen madu semakin banyak berdatangan ke tempat tersebut karena bisa menyaksikan proses pemanenan secara langsung.

Penulis sempat menyaksikan proses pemanenan madu sialang yang cukup menantang dan penuh resiko. Dengan alat sederhana seperti : sepatu, Kaos kaki, kaos tangan, masker, training, kaos dan penutup kepala. Semua pakaian berlapis tiga untuk menghindari sengatan lebah Dorsata yang sangat tajam. Kelincahan para pemanen madu seperti sudah terbiasa berjalan melewati batang dan dahan dahan pohon keruing. Sesaat setelah lebah merasa terusik oleh hadirnya manusia, seketika itu pula beterbangan di sekeliling pohon. Kondisi seperti itu sangat berbahaya bagi kita yang menyaksikan proses pemanenan sehingga harus segera menepi dan masuk ke semak belukar.
Teknik pemanenan madu sialang sangat memperhatikan konsep kelestarian. Pemanenan madu menggunakan sistem sunat dan tanpa pengasapan menjadikan lebah tidak meninggalkan koloni. Lebah tetap bisa berkembang biak dan mengkonsumsi nutrisi yang diperlukan. Sortasi dilakukan dengan sistem tiris sehingga dihasilkan madu murni tanpa lilin lebah dan anakan lebah. Kebiasaan petani madu memeras sarang untuk mendapatkan madu mengakibatkan lilin dan anakan lebah masuk ke dalam madu sehingga terjadi proses fermentasi dan menciptakan rasa asam. Beberapa produk turunan yang dihasilkan dari lebah madu adalah Madu murni, Madu sarang, bee polen, lilin lebah serta propolis.
Apabila kita terkena sengatan lebah Dorsata, kita tidak boleh mencabut sengat yang tertinggal pada kulit karena memungkinkan sengat akan masuk lebih dalam. Langkah yang harus kita lakukan adalah menekan bagian tubuh yang terkena sengat dengan ibu jari sehingga sengat akan keluar. Efek gatal akan terasa jika kita tersengat lebah tapi sebaiknya kita tidak menggaruknya karena dikhawatirkan terkena infeksi. Kita disarankan mengoleskan minyak taupun dedaunan muda pada bekat luka sengat agar lebah tidak bisa mendeteksi kita melalui bau badan yang sudah dikenalinya.

You may also like

Peran Asesor dalam Menjamin Kompetensi SDM Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Smart School, Wajah Baru Sekolah di Era New Normal
Menumbuhkan Leadership Pada Peserta Didik di Era Pandemi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *