Disusun Oleh Binti Masruroh, S.Hut – Guru Muda di SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru
Dokumentasi Sambutan Kepala SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru dalam Pembukaan Workshop Pemanfaatan Geographic Information System dalam Bidang Sumber Daya Hutan
Rabu, 29 Agustus 2018 telah dilaksanakan Workshop Pemanfaatan Geographic Information System (GIS) dalam Bidang Sumber Daya Hutan. Workshop dilaksanakan di Laboratorium Komputer SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru dan dihadiri oleh 20 staf pengajar. Dalam sambutannya Kepala SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru ibu Dra Maryati, M.Pd menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam penguasaan teknologi terutama bidang Geographic Information System. Menurut beliau untuk meningkatkan lulusan yang kompetitif di bidang kehutanan diperlukan kualitas tenaga pengajar yang kompeten. Kompeten dalam bidang keilmuanya dan selalu mengupdate informasi terkini sejalan dengan perkembangan pengetahuan.
Kegiatan workshop ini terselenggara berkat kerjasama antara SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru dan Universitas Islam Riau dalam rangkaitan kegiatan pengabdian masyarakat. Dalam materinya DR.ENG Husnul Kausarian, M.Sc., PHD menyampaikan fokus kegiatan workshop adalah pemanfaatan citra satelit untuk zonasi lahan gambut. Lahan gambut adalah lahan yang rawan terbakar. Lahan gambut tersusun atas bahan organik yang tidak terdekomposisi sempurna sehingga membentuk spon dengan porositas yang tinggi. Gambut terbentuk karena genangan air yang terus menerus, pori pori gambut menyerap dan menyimpan air dalam jumlah besar. Lahan gambut bukan sebuah masalah jika dibiarkan mengalami suksesi secara alami dalam artian tetap lestari dengan keberadaan hutan di dalamnya. Namu, seiring kebutuhan sektor ekonomi, kelestarian mulai diabaikan. Pembukaan lahan gambut dengan penebangan pohon pohon endemik dilakukan secara besar besaran. Hutan gambut berubah menjadi perkebunaan sawit. Kanal kanalpun dibuat dikeliling perkebunan dengan tujuan mengurangi genangan air, karena sawit tidak bisa tumbuh dengan baik jika tergenanng air. Kanal juga dimanfaatkan untuk mengeluarkan kayu dari dalam hutan.
Penerapan monokultur sawit dan pembuatan kanal adalah faktor penyebab keringnya gambut. Kubah gambut yang mengering akan sangat mudah terbakar. Kebakaran di lahan gambut akan sangat sulit untuk dipadamkan. Mengapa demikian? Karena api menyebar tidak hanya di permukaan tanah, melainkan juga di bawah permukaan tanah. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh DR ENG Husnul Kausarian, M.Sc., PHD bekerjasama dengan Chiba University-Japan, Lapisan gambut tertebal di propinsi riau berada di Semenjung Kampar. Semenanjung Kampar meliputi Kabupaten Siak sampai dengan Indragiri Hilir. Ketebalan gambut pada daerah sungai rawa, sungai apit dan kampung penyengat mencapai 25 meter. Tidak bisa dibayangkan jika kebakaran terjadi pada daerah tersebut, tentu akan sangat sulit untuk dipadamkan. Sebagai upaya mitigasi kebakaran gambut maka dibuatlah zonasi lahan gambut. Dari zonasi lahan gambut kita bisa mengurutkan skala prioritas untuk pencegahan dan penanggulangan kebakaran dengan terlebih dahulu melakukan pengukuran ketebalan gambut di setiap lokasi. Dari data tersebut dapat dikelompokan kategori lahan gambut berdasar potensi kebakaran yaitu
  1. Gambut berpotensi “mudah” terbakar
  2. Gambut berpotensi “sedang” terbakar
  3. Gambut berpotensi “sulit” terbakar
Sebelum tersusun zonasi gambut terlebih dahulu dilakukan pengambilan titik koordinat melalui GPS untuk selanjutnya dibuat peta. Untuk lebih memastikan potensi kebakaran yang ada juga dilakukan pemantauan melalui citra radar. Citra radar dipilih karena kemampuanya menembus awan meskipun warna yang dihasilkan hanya hitam putih. Dari hasil pengumpulan data di lapangan tesusunlah peta rawan kebakaran dan peta lahan gambut. 2 peta tersebut sangat penting untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran. Mengingat akhir agustus diprediksikan adalah puncak musim kering sehingga kita harus waspada

Secara garis besar Geographic Information System (SIG) terdiri atas empat tahapan :

  • Tahap Input Data
Tahapan input data adalah tahapan kritis, pada tahapan ini akan menghabiskan 60% waktu dan biaya. Tahap input data meliputi proses perencanaan, penentuan tujuan, pengumpulan data serta memasukannya dalam computer.
  • Tahap Pengolahan Data
Tahap ini meliputi klasifikasi, stratifikasi data, kompilasi serta geoprosesing (clip, merge, dissolve). Proses ini menghabiskan waktu dan biaya mencapai 20% dari total kegiatan
  • Tahap Analisis Data
Pada tahap ini dilakukan berbagai macam analisa keruangan, seperti buffer, overlay dan lain lain. Tahap ini menghabiskan dana 10% dari total dana yang dibutuhkan.
  • Tahap Out Put
Tahap ini merupakan fase akhir, dimana ini akan terkait dengan penyajian hasil analisa yang telah dilakukan, apakah disajikan dalam bentuk hardcopy, tabulasi data, CD System informasi, maupun dalam bentuk situs web site.

You may also like

Peran Asesor dalam Menjamin Kompetensi SDM Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Smart School, Wajah Baru Sekolah di Era New Normal
SOP Pengaduan Masyarakat Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *