Tak bisa dipungkiri bahwa mengenyam pendidikan di luar negeri adalah impian banyak orang. Selain karena kualitas pendidikan dan penelitian yang lebih baik, sekolah di luar negeri memungkinkan kita untuk menjelajah tempat baru, berinteraksi dengan masyarakat dengan latar belakang budaya yang berbeda, dan mengasah kemampuan berbahasa asing. Pengalaman ini menjadi penting mengingat di era globalisasi sekarang ini masyarakat dituntut untuk memiliki intercultural skill yang baik. Nilai – nilai plus tersebut sekaligus menjadi salah satu faktor penarik (pull factor) mengapa masyarakat Indonesia lebih memilih untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri.
Ikatan Konsultan Pendidikan Internasional Indonesia menyatakan bahwa pada tahun 2012 terdapat 50.000 pelajar Indonesia yang belajar di luar negeri. Jumlah ini mengalami pertumbuhan sebesar 20 % setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan bahwa kualifikasi pelajar Indonesia cukup baik sehingga bisa diterima di kampus negara – negara tetangga. Salah satu kendala yang umumnya dihadapi oleh masyarakat Indonesia adalah keterbatasan biaya. Kondisi keuangan yang kurang memadai membuat banyak pelajar Indonesia mengurungkan niat untuk bersekolah di luar negeri. Akan tetapi sebenarnya ada banyak jalan yang bisa ditempuh untuk bisa bersekolah di luar negeri. Diantaranya lewat jalur beasiswa, mengikuti program Au Pair, ataupun kuliah sambil mencari kerja sampingan.
Beasiswa umumnya berasal dari lembaga/pemerintah asing yang concern terhadap pengembangan sumberdaya manusia Indonesia. Sebagai contoh Jerman lewat DAAD (Deutscher Akademischer Austauschdienst) memberikan beasiswa program master/doktor/postdoc bagi para profesional, serta beasiswa satu semester, summer course, dan group visit untuk mahasiswa S1. Belanda menawarkan beasiswa full degree, short course, dan tailor made training. Pada tahun 2015, terdapat lebih dari 300 warga Indonesia yang menerima beasiswa ini (beasiswa StuNed). Sebanyak 103 orang untuk program master, 34 orang untuk pelatihan singkat, dan lebih dari 200 orang untuk program tailor made (sumber: pikiran rakyat).
Bagi yang tertarik untuk menempuh pendidikan dan pelatihan di Negeri Paman Sam, Amerika Serikat menyedikan beasiswa Fullbright, East-West Center Fellowhips, U.S.-Indonesia Fellowship, dan Hubert H. Humphrey Fellowship Program. Australia Awards Indonesia dalam laporan tahunannya menyebutkan bahwa pada tahun 2011 terdapat sebanyak 654 Warga Negara Indonesia yang menerima beasiswa pemerintah Autralia. Jumlah ini sekaligus menempatkan Indonesia sebagai negara penerima Australia Awards tertinggi di dunia disusul Vietnam dan Papua New Nugini.
Selain dari negara – negara tetangga, Pemerintah Indonesia juga menyediakan beasiswa bagi pelajar maupun profesional yang ingin melanjutkan pendidikan di luar negeri, yaitu lewat beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan). Beasiswa – beasiswa tersebut adalah full scholarship yang mengcover semua kebutuhan selama pendidikan (tiket pulang pergi, asuransi, biaya hidup, biaya pendidikan, dan lain sebagainya).
Akan tetapi, untuk mendapatkan sumber dana tersebut tentu tidaklah mudah. Beasiswa – beasiswa tersebut tergolong prestisius dengan jumlah dan kualitas pelamar yang cukup tinggi. Beasiswa Australia misalnya setiap tahunnya dilamar oleh lebih dari 5000 orang dengan jumlah penerima beasiswa sekitar 500 orang (sumber: madeandi.com). Trial and error mungkin akan kita alami pada saat melamar beasiswa tersebut. Sebuah testimoni beasiswa bahkan menyebutkan bahwa kandidat mungkin harus melamar berkali – kali sampai pada akhirnya mendapatkan hasil yang positif.
Secara umum, proses dalam mendapatkan beasiswa adalah: Pertama. Mencari informasi terkait persyaratan dan tata cara pendaftaran. Batas akhir pendaftaran umumnya bervariasi tergantung pemberi beasiswa. Untuk beasiswa DAAD batas akhir pendaftaran adalah bulan Oktober, dan beasiswa Australia pada bulan Agustus. Sementara itu, pendaftaran beasiswa Neso dilakukan sebanyak dua kali dan LPDP sebanyak empat kali dalam setahun. Adapun persyaratan umum yang diminta adalah bukti kemampuan Bahasa Inggris (TOEFL/IELTS/TOEIC), ijazah dan transkrip nilai, surat rekomendasi, dan motivation letter maupun study plan.
Nilai Bahasa Inggris yang disyaratkan biasanya ≥ 550 (TOEFL paper based test) atau overall band score 6 (IELTS). Akan tetapi, ada beberapa lembaga donor yang melonggarkan aturan ini. Beasiswa Australia misalnya. Untuk persyaratan administrasi, skor TOEFL yang diperlukan adalah 500. Sementara untuk beasiswa PRESTASI, skor TOEFL minimal adalah 450. Apabila lolos, para penerima beasiswa ini kemudian akan dikursuskan sampai memiliki skor TOEFL/IELTS yang diinginkan oleh kampus tujuan. Surat rekomendasi bisa diperoleh dari dosen pembimbing maupun dari atasan.
Setelah semua berkas pendaftaran terkumpul, langkah selanjutnya adalah mengisi formulir aplikasi (online dan / hardcopy) dan kemudian mengirimkannya ke alamat yang dituju. Formulir aplikasi beserta persyaratan pendaftaran sebaiknya dicopy untuk arsip. Berkas – berkas tersebut nantinya akan diperlukan apabila ada seleksi wawancara. Untuk beasiswa Erasmus Mundus, sebagian besar program hanya melakukan seleksi berdasarkan berkas yang terkumpul. Sementara itu, untuk beasiswa Australia (AAS), apabila dinyatakan lolos seleksi administrasi, pelamar masih akan menjalani test wawancara dan Bahasa Inggris. Wawancara biasanya membahas hal – hal yang terkait dengan informasi yang ditulis dalam formulir aplikasi, dan kesiapan kandidat dalam menempuh pendidikan di luar negeri. Proses terakhir adalah menunggu hasil seleksi. Tahap ini merupakan moment yang paling mendebarkan. Ada yang akan bergembira dan tidak sedikit pula yang akan merasa kecewa. Keberhasilan dalam memperoleh beasiswa tentu merupakan sebuah prestasi.
Mengikuti program Au Pair merupakan salah satu alternatif yang bisa dimanfaatkan untuk bersekolah di luar negeri. Menurut situs berkuliah.com, menjadi Au Pair berarti menjadi asisten domestik keluarga angkat di negara asing. Situs tersebut juga menjelaskan bahwa Au Pair tidaklah sama dengan pembantu rumah tangga. Ketika mengikuti program Au Pair berarti kita menjadi bagian dari keluarga angkat dan memiliki posisi yang sama dengan mereka. Sebagai balas jasa, host family akan memberikan fasilitas berupa akomodasi gratis, dan gaji bulanan. Selain baik untuk mengasah kemampuan berbahasa, pendapatan yang kita peroleh bisa digunakan untuk menempuh pendidikan di luar negeri. Mungkin agak sedikit unik. Akan tetapi sudah banyak warga Indonesia yang berhasil sekolah lewat program ini.
Kuliah sambil bekerja mungkin bukan hal yang lumrah di Indonesia. Akan tetapi di luar negeri menjadi mahasiswa sekaligus pekerja adalah sebuah perkara biasa. Banyak mahasiswa Indonesia yang sanggup memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikan mereka dengan mencari pekerjaan sampingan. Tidak sedikit pula diantaranya yang masih bisa menabung untuk memenuhi kebutuhan tersier. Pekerjaan yang mereka guluti biasanya yang bisa dilakukan di luar jam kuliah, misalnya menjadi loper koran, petugas kebersihan, pengasuh anak – anak, petugas restoran/supermarket, dan lain sebagainya. Informasi terkait penerimaan part timer ini juga tersebar luas dan dapat dengan mudah diakses di kampus – kampus maupun media massa.
Opsi di atas hanya beberapa contoh pilihan yang layak untuk dicoba. Ada banyak jalan menuju Roma dan tinggal pilih saja jalan mana yang akan ditempuh. Yang dibutuhkan adalah meningkatkan kualitas diri dan berusaha sebaik mungkin karena masalah biaya tidak seharusnya menjadi kendala.

Sekolah di Luar Negeri Tak Harus Kaya
Lambok P. Sagala
Guru SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru

You may also like

Peran Asesor dalam Menjamin Kompetensi SDM Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Smart School, Wajah Baru Sekolah di Era New Normal
Menumbuhkan Leadership Pada Peserta Didik di Era Pandemi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *