Selasa, 13 Desember 2016 adalah salah satu momen yang paling berharga bagi beberapa sekolah yang ada di Indonesia. Bertempat di Auditorium Manggala Wanabakti, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, sebanyak 489 sekolah di Indonesia akan menerima penghargaan sekolah adiwiyata nasional. Penghargaan ini akan diserahkan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Provinsi Riau sendiri berhasil meloloskan sebanyak 30 sekolah, dimana sekitar 40 % diantaranya berasal dari sekolah di Kota Pekanbaru (baik pada tingkat SD/SMP/SMA/SMK). Keberhasilan ini merupakan buah kerja keras dari semua elemen masyarakat, mulai dari pihak sekolah, instansi pemerintah (Badan Lingkungan Hidup, Ekoregion), maupun pihak swasta terkait.
Kenapa sekolah adiwiyata ini penting? Kondisi lingkungan yang semakin memprihatinkan hanya dapat diatasi apabila semua elemen masyarakat tak terkecuali warga sekolah bahu membahu menyelesaikan sumber masalah, dan mencegah terjadinya pelanggaran etika lingkungan. Selain itu, sekolah adalah pusat peradaban. Pembentukan karakter peduli lingkungan salah satunya ditentukan oleh pendidikan di sekolah. Sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga tempat untuk mencetak pribadi yang peduli akan permasalahan hidup tak terkecuali permasalahan lingkungan. Gerakan sadar lingkungan seperti membuang sampah pada tempatnya, menghemat penggunaan air dan listrik, menerapkan pola hidup sehat dan bersih, menanam dan memelihara tanaman, mengaplikasikan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle), diharapkan dapat berakar dan bertumbuh menjadi kebiasaan lewat pembinaan di sekolah. Melalui pendidikan, warga sekolah sejatinya dapat menjadi agent of change dan dapat memberikan teladan dalam mengelola lingkungan.
Dengan demikian, pemberian penghargaan sekolah adiwiyata ini diharapkan dapat menjadi stimulator bagi lembaga – lembaga pendidikan untuk mengambil peran aktif dalam menghasilkan generasi peduli lingkungan dan turut andil dalam mencegah dan mengatasi kerusakan lingkungan. Sistem reward ini juga merupakan salah satu bentuk apresiasi pemerintah terhadap sekolah – sekolah berwawasan lingkungan.
Untuk menjadi sekolah adiwiyata nasional, tentu bukanlah sebuah perkara yang mudah. Dibutuhkan partisipasi dari semua stakeholder, mulai dari tenaga pendidik dan kependidikan, peserta didik, komite sekolah, masyarakat sekitar dan pihak – pihak lainnya. Sekolah adiwiyata nasional diberikan apabila telah melewati seleksi sekolah adiwiyata tingkat kota/kabupaten, provinsi, dan nasional. Dalam penilaian adiwiyata, ada beberapa kriteria yang digunakan, diantaranya: kebijakan berwawasan lingkungan, pelaksanaan kurikulum berbasis lingkungan, kegiatan lingkungan berbasis partisipatif, dan pengelolaan sarana pendukung ramah lingkungan. Penilaian ini juga tidak hanya terbatas pada berkas – berkas yang bersifat administratif, tetapi juga mencakup kondisi real di lapangan.
Untuk memenuhi keempat kriteria di atas, ada beberapa langkah yang dapat ditempuh, diantaranya: Pertama. Menetapkan visi, misi, dan tujuan sekolah yang berwawasan lingkungan dan diketahui oleh seluruh warga sekolah. Visi, misi, dan tujuan harus secara tertulis menyangkut upaya pelestarian lingkungan dan mencegah terjadinya pencemaran/kerusakan lingkungan. Ketiga aspek tersebut wajib disosialisasikan kepada seluruh warga sekolah baik lewat seminar formal, penyuluhan ke warga sekolah, maupun dengan menggunakan bantuan media (banner/leaflet/spanduk). Dengan adanya sosialisasi ini, seluruh warga sekolah diharapkan dapat memahami dan melaksanakan prinsip – prinsip dasar yang telah disepakati bersama. Salah satu implikasi dari penerapan visi, misi, dan tujuan ini adalah adanya alokasi anggaran sekolah yang diperuntukkan khusus untuk pengelolaan lingkungan baik untuk sarana prasarana, peningkatan kapasitas, maupun untuk penyelenggaraan event – event berbasis lingkungan.
Kedua. Mengintegrasikan aspek lingkungan hidup ke dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Struktur kurikulum di sekolah wajib memuat pelestarian fungsi lingkungan, mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan. Hal ini berarti setiap guru, baik untuk kelompok mata pelajaran wajib (adaptif, normatif, produktif), maupun muatan lokal dan pengembangan diri wajib memasukkan unsur lingkungan ke dalam rencana pelaksanaan maupun selama kegiatan pembelajaran. Integrasi ini diharapkan dapat meningkatkan wawasan peserta didik terhadap aspek keilmuan lingkungan hidup. Di samping itu, integrasi ini diharapkan dapat meningkatkan peran serta guru dalam meningkatkan kepedulian peserta didik terhadap lingkungan.
Ketiga. Menyelenggarakan kegiatan berbasis lingkungan yang melibatkan multipihak. Pihak yang dimaksud meliputi tenaga pendidik dan kependidikan, peserta didik, komite sekolah, masyarakat sekitar, dan pihak – pihak terkait lainnya seperti institusi pendidikan, Badan Lingkungan Hidup, Dinas Pendidikan, Unit Pengelolaan Sampah (Bank Sampah), media, dan lain – lain. Partisipasi para pihak sangat diperlukan untuk memperkuat gerakan peduli lingkungan, menjadi wadah untuk bertukar informasi maupun pengalaman, dan menjadi jembatan untuk menghubungkan elemen masyarakat yang memiliki impian yang sama dalam melestarikan lingkungan. Kegiatan berbasis lingkungan tersebut bisa bersifat internal yang dilaksanakan di lingkungan sekolah maupun eksternal yang pelaksanaannya berada di luar sekolah.
Keempat. Mengembangkan sarana pembelajaran yang ramah lingkungan seperti ruang kelas yang memiliki ventilasi yang baik. Selain itu, kondisi di luar ruang kelas juga harus nyaman dan sehat misalnya dengan menyediakan ruang terbuka hijau, toilet yang bersih, sekolah yang bebas dari polusi dan pencemar, adanya kantin sehat, dan sistem sanitasi yang baik. Keberadaan sarana prasana pendukung seperti sumur resapan, lobang resapan biopori, dan vertical garden akan menjadi nilai lebih.
Kelima. Mengembangkan kreativitas dan inovasi dalam mencegah dan mengatasi masalah lingkungan hidup. Kreativitas dan inovasi ini misalnya dalam bentuk pengelolaan limbah, pemanfaatan sumber energi alternatif, maupun penemuan teknologi terbaru. Kreativitas dan inovasi ini sebaiknya dipublikasikan baik melalui media cetak maupun elektronik misalnya melalui koran/majalah, mading, internet, maupun lewat pameran. Hal ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat dan memberi peluang bagi pihak lainnya untuk menerapkan kreativitas dan inovasi tersebut.
Keenam. Warga sekolah diminta secara aktif berpartisipasi dalam mengikuti maupun menyelenggarakan kegiatan berbasis lingkungan. Kegiatan ini bisa dalam bentuk aksi bersih, penanaman, pengolahan limbah, maupun kegiatan lomba – lomba bertemakan lingkungan. Pemerintah lewat Kementerian Lingkungan Hidup menetapkan 11 hari – hari lingkungan hidup, diantaranya hari sejuta pohon, hari lahan basah, hari bumi, hari air, hari lingkungan hidup sedunia, dan sebagainya. Perayaan hari – hari tersebut tentu dapat dijadikan sebagai momentum dalam meningkatkan kesadaran lingkungan. Selain itu, warga sekolah baik guru maupun siswa diharapkan dapat menjadi nara sumber dalam kegiatan seminar/penyuluhan/kampanye bertemakan lingkungan.
Dengan terpenuhinya keempat komponen di atas, sekolah memiliki peluang yang cukup baik dalam meraih penghargaan sekolah adiwiyata. Akan tetapi, hal yang perlu dipahami bersama adalah meraih sekolah adiwiyata sejatinya bukan hanya karena masalah prestasi tetapi menjadi motivasi untuk melakukan transformasi pola pikir dan perilaku dalam menjaga kelestarian lingkungan. Salam lestari!
Sekolah Adiwiyata: Sekolah Berwawasan Lingkungan Lambok P.Sagala Guru SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru

You may also like

Berwisata di kawasan dilindungi
Asyiknya Belajar Dendrologi Melalui Ecoprint Basic Sutera
EKSISTENSI SASTRA HIJAU DI PROVINSI RIAU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *