• Latar Belakang

Persoalan lingkungan yang selalu menjadi isu besar di hampir seluruh wilayah perkotaan adalah masalah sampah (Febrianie dalam Kompas 10 Januari 2004). Arif Rahmanullah dalam Kompas, 13 Agustus 2003 mengatakan bahwa laju pertumbuhan ekonomi di kota dimungkinkan menjadi daya tarik luar biasa bagi penduduk untuk hijrah ke kota (urbanisasi). Akibatnya jumlah penduduk semakin membengkak, konsumsi masyarakat perkotaan melonjak, yang pada akhirnya akan mengakibatkan jumlah sampah juga meningkat. Pertambahan jumlah sampah yang tidak diimbangi dengan pengelolaan yang ramah lingkungan akan menyebabkan terjadinya perusakan dan pencemaran lingkungan (Tuti Kustiah, 2005:1). Lebih jauh lagi, penanganan sampah yang tidak komprehensif akan memicu terjadinya masalah sosial, seperti amuk massa, bentrok antar warga, pemblokiran fasilitas TPA (Hadi, 2004) Pertumbuhan jumlah sampah di kota-kota di Indonesia setiap tahun meningkat secara tajam. Sebagai contoh di Kota Bandung. Di kota ini, pada tahun 2005 volume sampahnya sebanyak 7.400 m3 per hari; dan pada tahun 2006 telah mencapai 7.900 m3 per hari. Selain itu, di Jakarta, pada tahun 2005 volume sampah yang dihasilkan sebanyak 25.659 m3/hari; dan pada tahun 2006 telah mencapai 26,880 m3/hari. (Suganda dalam Kompas, 30 Nopember 2006). Kemampuan Pemerintah untuk mengelola sampah hanya mencapai 40,09% di perkotaan dan 1.02% di perdesaan (Tuti Kustiah : 2005:3). Sehingga diperlukan kebijakan yang tepat agar sampah yang di perkotaan khususnya, tidak menjad bom waktu di masa mendatang. Saat ini hampir seluruh pengelolaan sampah berakhir di TPA sehingga menyebabkan beban TPA menjadi sangat berat, selain diperlukan lahan yang cukup luas, juga diperlukan fasilitas perlindungan lingkungan yang sangat mahal. Semakin banyaknya jumlah sampah yang dibuang ke TPA salah satunya disebabkan belum dilakukannya upaya pengurangan volume sampah secara sungguh-sunguh sejak dari sumber (Tuti Kustiah : 2005:3).
  • Pengelolaan Sampah Terpadu Berbasis Masyarakat

Pengelolaan Sampah Terpadu Berbasis Masyarakat adalah suatu pendekatan pengelolaan sampah yang didasarkan pada kebutuhan dan permintaan masyarakat, direncanakan, dilaksanakan, dikontrol dan dievaluasi bersama masyarakat. Pemerintah dan lembaga lainnya sebagai motivator dan fasilitator. Fungsi motivator adalah memberikan dorongan agar masyarakat siap memikirkan dan mencari jalan keluar terhadap persoalan sampah yang mereka hadapi. Tetapi jika masyarakat belum siap, maka fungsi pemerintah atau lembaga lain adalah menyiapkan terlebih dahulu. Misalnya dengan melakukan pelatihan, study banding dan memperlihatkan program yang sukses. Pada saat ini terutama di kota besar peningkatan timbulan sampah perkotaan (2–4 %/tahun) yang tidak diikuti dengan ketersediaan prasarana dan sarana persampahan yang memadai, berdampak pada pencemaran lingkungan yang selalu meningkat dari tahun ke tahun. Dengan mengandalkan pola kumpul-angkut-buang, maka beban pencemaran akan selalu menumpuk di lokasi TPA dan pengelolaan sampahnya tidak memenuhi standard yang telah dipersyaratkan. Kebiasaan membakar sampah memang sudah membudaya di masyarakat baik itu di perdesaan maupun di perkotaan. Mereka belum menyadari bahwa jenis sampah saat ini berbeda dengan sampah jaman dulu. Jenis-jenis sampah saat ini cenderung didominasi oleh sampah sintetis kimia seperti plastik, karet, styrofoam, logam, kaca dll. Apabila sampah tersebut dibakar maka akan mengeluarkan gas-gas beracun yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat yang menghirupnya dan memperburuk kualitas lingkungan udara. Misalnya hasil pembakaran sampah plastik menghasilkan gas dioxin yang mempunyai daya racun 350 kali dibandingkan asap rokok. Dioxin termasuk super racun dan bersifat karsinogenik bila masuk kedalam jaringan tubuh manusia terutama saraf dan paru-paru, sehingga dapat mengganggu sistem saraf dan pernafasan termasuk penyebab kanker. Pembakaran styrofoam akan menghasilkan CFC yang dapat merusak lapisan ozon dan berbahaya bagi manusia.
  • Melihat Sosok Inspiratif Peraih KALPATARU 2013 Melalui Daur Ulang Sampah

Sosok yang mungil tapi bertangan dingin, dari tanganya berhasil ditorehkan berbagai prestasi dalam daur ulang sampah. Ibu Sofia Seffen, SH. Beliau adalah peraih KALPATARU 2013 dari bapak Presiden RI yang keenam yaitu Bapak Susilo Bambang Yudoyono (SBY). Beliau dikenal sebagai srikandi daur ulang sampah dari pekanbaru.

Gambar 1. Ibu Sofia Seffen, SH menerima penghargaan KALPATARU tahun 2013 dari Bapak Presiden RI yang keenam yaitu Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Dalang Collection adalah lembaga swadaya masyarakat yang beliau dirikan untuk mengolah sampah menjadi berbagai macam kerajinan. Dalam kegiatan daur ulang dalang collection melibatkan masyarakat sekitar yang sebagian besar berprofesi sebagai pemulung. Sampah yang ada dibeli dari masyarakat melaui bank sampah. Masyarakat memiliki rekening sampah yang bisa ditukar dengan uang setahun sekali. Harga sampah kertas Rp 800/kg, sedangkan botol plastic 1800/kg.

Kegiatan bank sampah yang dilakukan oleh Dalang collection adalah :

  1. Membeli sampah dari warga, untuk kemasan plastic dihargai 1800 /kg
  2. Mencuci sampai bersih sampah plastic yang ada, upah 4000 sd 5000 /kg
  3. Membuat pola sesuai jenis kerajinan yang akan dibuat, upah 3000/kg
  4. Menjahit sesuai pola, 3000 /kg, atau sesuai tingkat kesulita
  5. Cara ini rupanya menarik perhatian warga setempat untuk berbondong bondong dalam kegiatan bank sampah
  6. Ratusan bank sampah bermunculan di bawah binaan Dalang Colection

Gambar 2. Buku Rekening Sampah

Gambar 3. Catatan rekening sampah dapat ditukar dengan uang

  •  Prospek Bisnis Daur Ulang Sampah

Melihat kesuksesan Dalang colectin dalam usaha daur ulang sampah, SMK Kehutanan Pekanbaru terinspirasi untuk mengikuti jejaknya. Jadilah SMK Kehuatan Pekanbaru sebagai mitra Dalang collection langsung di bawah binaan ibu Sofia Seffen, S.H. Ini adalah langkah awal dalam memulai sebuah mimpi Orang yang kreatif bisa merubah masalah menjadi sebuah peluang, demikian juga dengan sampah. Jika di semua tempat sampah menjadikan sebuah masalah besar. Siswa SMK Kehutanan melihat sampah adalah bahan dasar uang. Mengapa demikian? Dari sampah bisa diolah menjadi barang kerajinan, baik itu berupa sampah anorganik seperti plastic, kertas, kaca dll. Sedangkan untuk sampah anorganik dapat diolah menjadi pupuk . SMK kehutanan dengan sistim asrama dan menyatu dengan perumahan warga menghasilkan sampah yang cukup banyak setiap harinya. Di SMK kehutanan Pekanbaru memiliki 4 terminal sampah permanen dengan total ukuran 4 x1 x1 m3 penuh dalam 2 hari.. Ke 4 terminal sampah tersebut rupanya tidak dapat menampung sampah organik yang didominasi oleh daun kering dan limbah jamur. Daun kering yang jatuh setiap hari dikumpulkan oleh petugas kebersihan. Demikian juga dengan limbah jamur / baglog. Untuk menanggulangi sampah organic yang luar biasa banyak sekolah membuat 4 unit terminal sampah khusus organik di depan unit produksi daur ulang. 4 terminal sampah berukuran 4 x1 x1 m3 akan penuh dalam 1 minggu. Sehingga total sampah organik yang dihasilkan dalam 1 bulan. Jadi total sampah yang dihasilkan dalam sebulan = (4×15) + (4×4) = 74 m3 Kunci dalam daur ulang sampah ada pemilahan sampah. Sampah yang tidak dipilah akan menjadi sumber penyakit dan berbahaya bagi lingkingan. Sampah rumahtangga memiliki tingkat variasi jenis yang sangat tinggi, mulai limbah sayuran, masakan, ikan, daging, telur, pampers, baterai, kaca, kertas, kardus, plastic dan masih banyak lagi jenisnya. Oleh karena itu kita harus menyiapkan tempat sampah dan terminal (tempat penampungan sampah) secara terpisah juga. Tempat sampah dan terminal sampah sengaja dibuat dengan warna terang dan warna warni agar menarik dan mudah dalam mengarahkan warga sekolah dalam membuang sampah.
  1. Warna Merah digunakan untuk menampung sampah B3 (bahan berbahay a dan beracun) berisi berbagai bahan berbahaya seperti baterai, accu, botol insektisida dll)
  2. Warna putih digunakan untuk menampung kertas, baik HVS, Koran maupun kardus yang tidak terpakai.
  3. Warna kuning digunakan untuk menampung plastik, berisi beraneka botol bekas, kantong plastic maupun bekas gelas minuman kemasan
  4. Warna Hijau digunakan untuk menampah dedaunan, sayuran, rumput dll. Setelah sampah terpisah kita dapat menentukan langkah selanjutnya dalam kegiatan daur ulang. Karena langkah terberat sudah terlewati. Secara singkat proses daur ulang dapat disusun dalam beberapa tahap yaitu 1. Pemilahan di tempat sampah berdasar jenis 2. Pengumpulan di terminal sampah berdasar jenis 3. Untuk sampah B3 dapat bekerjasama dengan dinas kebersihan kota untuk pengelolaanya 4. Untuk sampah plastic dan kertas dapat dijual perkilo ataupun dapat di daur ulang 5. Untuk sampah daun dapat didaur ulang menjadi pupuk organik

Gambar 4. Terminal sampah, sampah dibedakan berdasrkan jenisnya

  • Daur Ulang Sampah Organik

Sampah organik adalah sampah yang berasal dari bahan organik seperti daun, rumput, sisa makanan, sisa sayuran, dll. Sampah organik dapat diolah menjadi pupuk organik. Hadirnya berbagai penyakit yang diakibatkan oleh pola makan yang kurang sehat mengakibatkan sebagian masyarakat mulai memilih produk organik. Produk organik adalah produk yang dibudidayakan tanpa menggunakan bahan kimia, pestisida maupun pupuk kimia. Makanan berlabel organik sudah mulai muncul di pasaran bak jamur di musim hujan. Mulai dari beras, sayur, buah serta berbagai produk lain dengan brand “ Organik”. Seperti sebuah magnet bagi masyarakat yang mulai sadar arti penting hidup sehat. Limbah organik yang dihasilkan SMK cukup tinggi, hampir 50% dari total limbah yang yang ada. Bahan yang cukup melimpah merupakan peluang bisnis yang cukup menarik. Produksi pupuk organik adalah jenis usaha dengan modal yang rendah dan keuntungan tinggi. Bahan baku yang dibutuhkan ada di sekitar kita.

Gambar 5. tempat sampah dibedakan berdasar jenis

Sebagai variasi produk kita dapat membuat produksi pupuk organik dengan beberapa pilihan. Jenis pupuk organik dapat dibedakan berdasarkan manfaat yang diberikan yaitu
  1. Pupuk Organik Lestari, dengan starter berupa EM4 berguna untuk menyuburkan tanah. Mengubah bahan organik menjadi terurai menjadi nutrisi pertumbuhan. Kehadiran bahan organik berupa nutisi dalam tanah memacu pertumbuhan mikroorganisme penyubur tanah seperti cacing tanah, bakteri dan jamur yang bermanfaat. Aktivitas mikroorganisme meciptakan rongg rongga dalam tanah sehingga aliran oksigen dan air berjalan lancar
  2. Pupuk Organik Tricoderma, dengan starter berupa jamur tricoderma berguna menyuburkan tanah sekaligus membasmi hama penyakit. Selaian terdapat mikroorganisme penyubur tanah, dalam tanah juga terdapat hama penyakit berbahaya bagi tanaman. Hama penyakit yang biasanya banyak dijumpai pada tanaman adalah busuk akar yang disebabkan oleh pithyum. Dengan menggunakan pupuk tricorma kita bisa berhemat, karena dalam 1 langkah bisa memupuk dan membasmi hama penyakit.
Alat dan Bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan pupuk organik
A. Alat
  1. Mesin Pencacah Daur ulang
  2. Neraca timbangan
  3. Ayakan Diameter 2 – 2,5 mm
  4. Ember
  5. Goni
  6. Parang
B. Bahan ,
  1. Untuk bahan 1m3 rumput
  2. Kapur 500 gr
  3. Jamur Tricoderma 1 kg atau 1 lt EM4 sesuai dengan jenis pupuk yang akan dibuat
  4. Kotoran ayam petelur 1 ember ( 5 kg)
  5. Dedak 1 ember (5 kg)
  6. Gula 1 kg
  7. Terpal 4×6
  8. Air
  9. Slang 1 rol
  10. Plastik hitam 30 m atau Seng
  11. Kawat saringan diameter 0,3 m, sepanjang 6 m

    Proses pembuatan

a. Mencari lokasi yang datar, rindang dan terhindar dari serangga, kemudian dibersihkan, gunakan insektisida jika perlu b. Membuat bak pengomposan bisa permanen maupun semi permanen. Penggunaan bak permanen akan lebih tahan lama, bak permanen dibuat dari batu bata dan semen. c. Bak pengomposan dibagi menjadi 4 bagian agar panen kompos bisa dilakukan setiap minggu. Sebaiknya lantai dasar bak pengomposan berupa tanah agar ada kontak langsung dengan mikroba di dalam tanah.

Gambar 6. Bak Pengomposan, terdiri dari 4 kotak

d. Semua bahan yang terdiri dari kotoran ayam, dedak, kapur dan gula yang terlebih dahulu dilarutkan. Campur bahan hingga merata, tambahkan jamur tricoderma, aduk kembali dan tambahkan air sampai jenuh. Bagi campuran dalam 4 bagian yang sama. e. Daun kering dan rumput dari lapangan disortir, buang kayu, dahan atau jenis rumput yang terlalu keras seperti paku pakuan atau alang alang. Bahan yang keras akan menghambat proses dekomposisi sehingga pengomposan menjadi lama. f. Mencacah semua bahan menggunakan mesin pencacah rumput. g. Membagi bahan yang sudah dicacah menjadi 5 bagian h. Menghamparkan 1 bagian daun yang sudah dicacah dengan merata i. Menaburkan 1 bagian campuran tricoderma dengan merata j. Menghamparkan 1 bagian daun yang sudah dicacah dengan merata k. Begitu seterusnya hingga bagian terakhir dari daun yang sudah dicacah sebagai bagian paling atas l. Menambahkan air jika kondisi bahan terlalu kering, penambahan air untuk menciptakan kelembaban. Jumlah air yang ditambahkan tidak boleh terlalu karena akan mengakibatkan dekomposisi tidak sempurna m. Menutup rapat kotak kompos dengan terpal n. Mengecek kelembaban dan suhu kompos dengan meraba terpal dari luar atau membukanya. Jika suhu mulai panas berarti proses dekomposisi mulai berjalan. o. Membalik kompos agar panasnya merata p. Menambahkan air jika kompos terlalu kering q. Langkah n sampai q dilakukan seminggu sekali r. Setelah kompos jadi, ditandai dengan perubahan warna coklat menjadi hitam, bisa dilakukan pemanenan s. Mengayak kompos sehingga tersisa bagian yang halus, bagian yang kasar dapat dicampur dengan bahan yang lain untuk diproses ulang t. Mengering anginkan hasil kompos yang sudah halus u. Menimbang dan mengemas kompos

Gambar 7. Proses produksi pupuk organic tricoderma

  • BANK SAMPAH DAN DAUR ULANG SAMPAH ANORGANIK
    Selain di jual sebagian sampah organik dibuat menjadi bahan kerajinan seperti tas, sandal, tempat tisu dan lain lain

Gambar 8. Pembuatan Kerajinan dari sampah

You may also like

Pemanfaatan Penginderaan Jauh untuk Estimasi Produksi Kayu
Berwisata di kawasan dilindungi
SMKKN Pekanbaru Raih Juara 1 “Rimbang Baling Jungle Trek 2019”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *